Mencoba halaman baru

rss

3 berita pendidikan

5 Opini Terbaru

» script dari http://o-om.com/
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2009

Dirgahayu Guru

M. Ridwan *)

Setiap tahun kita selalu memperingati hari Guru yang bertepatan tanggal 25 November. Selamat, saya ucapkan kepada segenap jajaran pendidik dan pengajar di seluruh Indonesia atas dedikasi dan pengabdiannya selama ini. Meskipun banyak permasalahan pelik selalu menghantam gejolak dan gairah seorang guru. Namun demikian niat dan tekat bulat mengalahkan itu semua. Guru selalu lumintu mendidik dan mengajari siswa agar mereka tidak bernasib sama seperti dirinya. Tak perlu mengomentari seluk beluk permasalahan seorang pendidik yang rumit, tetapi sejenak kita menengok kebelakang apa makna dari peringatan hari Guru dan esensi siapa yang disebut sebagai guru itu.

Keberadaan seorang guru di Indonesia sudah ada sejak zaman masa pra Aksara sampai sekarang. Guru pada masa pra aksara adalah seorang yang dianggap bisa mengendalikan alam dan kekuatannya. Maklum sebelum masa beragama di Indonesia, masyarakat percaya animism dan dinamisme. Kekuatan alam seperti angin, hujan, petir, atau gangguan hewan liar dan buas tidak sepenuhnya bisa ditangani oleh masyarakat masa pra Aksara. Mereka mencari perlindungan kepada seseorang yang dianggap memiliki kekuatan lebih untuk menghadapi semua ini. Seorang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah guru yang sekaligus sebagai pemimpin atau ketua suku. Perkataan pemimpin/guru ini selalu diikuti dan dilaksanakan. Pemimpin ini tentu mengajari hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan keseharian. Pemimpin ini sangat dihormati dan dihargai. Pemimpin ini dipilih karena kekuatannya, mengayomi, kepandaiannya, adil, dan tidak takut apapun.
Masa para aksara berakhir di Indonesia dengan datangnya pengaruh Hindu-Budha. Pengaruh Hindu-Budha ini menggeserkan posisi ketua suku yang sebelumnya sebagai pemimpin dan guru bagi lingkungannya menjadi hanya seorang raja saja atau kasta Kstria. Posisi guru diambil alih oleh seorang pendeta / pendande / rsi / sulinggih / empu dari kasta Brahmana. Posisi ini tergantikan karena mereka yang dikatakan guru harus menguasai segala ilmu pengetahuan terutama tentang agama. Guru pada masa ini memiliki siswa yang diasramakan. Alasannya adalah perlu konsentrasi untuk mengajarkan kepada siswa tentang semua ilmu pengetahuan. Oleh karena itu dibangunlah sebuah asrama yang biasanya digabungkan dengan bangunan candi. Guru mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya antara lain ilmu tentang agama, bela diri, perang dan sopan santun. Ajaran terakhir ini merupakan letak dasar kepribadian bangsa ini. Kepada yang lebih tua harus menghomati, dan kepada guru maupun orang tua harus lebih dihormati.
Pada abad 9 Masehi, Indonesia memasuki masa pengaruh Islam. Kedatangan Islam merubah tatanan social politik kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan dunia pendidikan. Guru pada masa Islam datang diambil alih oleh seorang ustad / sunan / susuhunan / kyai. Sama sebenarnya dengan masa Hindu-Budha, perbedaannya terletak pada siapa yang bisa menjadi guru. Masa Islam ini siapa saja bisa menjadi seorang guru tidak terikat pada status sosialnya. Yang terpenting adalah seorang guru mampu menguasai ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Budi pekerti masih menjadi topic dalam keseharian guru dalam mengajari murid-muridnya. Budi pekerti ini adalah pelajaran gabungan dari ilmu agama dengan tingkah laku. Guru menjadi sentral dari system pengajaran Islam saat itu. Penghormatan luar biasa kepada guru adalah hal wajar dan utama masa itu. Belajar perlu tempat khusus yakni sebuah pemondokan, yang lebih kita kenal dengan pondok pesantren. Perkembangan pondok pesantren masa ini sangat luar biasa berkembangnya. Perkembangan ini karena kharismatik dan kepintaran seorang guru sehingga banyak sekali santri-santri yang ingin menimba ilmu pada dirinya.
Abad ke 15 merubah semua kondisi pendidikan Indonesia. Hal ini ditandai dengan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia. Perubahan ini sangat terasa sekali karena system yang digunakan sangat bertentangan dengan ajaran kepribadian bangsa ini. Yang diperbolehkan sekolah hanya masyarakat yang status sosialnya tinggi. Guru juga diambilkan dari bangsa Eropa sendiri. Tetapi ada manfaat yang bisa dipetik dari system Eropa yang diterapkan ini, yakni kedisiplinan. Kedisiplinan adalah modal utama guru dalam mengajari siswanya. Menurut bangsa Eropa, belajar harus disiplin segalanya agar ketercapaian menyerap ilmu akan semakin mudah diterimanya. Guru sebagai sentral studi, harus mempunyai jiwa kedisiplinan yang tinggi. Sehingga profesi guru dipilih bukan seorang sembarangan.
Nah sampai pada masa kemerdekaan seperti saat ini, guru silih berganti mengalamai perubahan tujuan dan tuntutan. Guru tidak hanya dituntut pandai, disiplin, wibawa, tetapi juga sebagai contoh perilaku masyarakat sekitarnya. Tetapi masa sekarang guru bukan lagi sebagai profesi yang bonafit. Ketidak bonafitan ini dikarenakan tunjangan atau gaji sangat dibawah standart sebagai seorang profesional. Apalagi tingkat konsumtif masyarakat zaman sekarang sangat tinggi sekali. Tidak heran masyarakat memandang seorang guru sebagai profesi rendah. Tetapi dengan semangat pendahulu kita, guru harus mampu mengendalikan permasalahan masyarakat, disiplin, berwibawa, pandai, maka mari bangkitkan gairah tersebut. Selamat untuk kita semua.

*) Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Rabu, 12 Agustus 2009

Sukses Ujian, Prestasi Sekolah atau LBB?*

Mohammad Efendi **

Coreng hitam menghias muka pendidikan kita awal Mei ini. Pasalnya, seperti yang ramai diberitakan di media, beberapa sekolah gagal meluluskan siswanya. Bahkan ada sekolah di belahan timur Pulau Jawa yang gagal 100 persen. Setelah dirunut, ternyata siswa lebih mempercayai kunci jawaban palsu untuk diisikan di LJK (Lembar Jawaban Komputer), dibanding dengan hasil olah pikir mereka sendiri. Menyedihkan!
Padahal sekolah tersebut tergolong favorit. Solusi yang ditawarkan BSNP pun aneh, dan keluar dari rel. Mengapa demikian? Karena ujian ulang yang akan mereka gelar untuk siswa yang terbukti langcung tersebyut jelas-jelas tak ada dalam POS (Panduan Pelaksanaan Operasional) ujian. Jelas, hal ini menjadi perdebatan marak. Seperti yang kita ketahui, kelulusan SMP dan SMA sangat bergantung kepada hasil Unas mereka. Dan berpatokan pada ketetapan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), tahun ini, angka standar kelulusan sebesar 5,50.

Sementara itu, bagi siswa SD, kelihatannya tak banyak hal yang merintangi untuk dapat lulus. Karena kelulasan masih di tangan sekolah masing-masing. Bahkan boleh jadi, hasil UASBN pun masih bisa dinego sebagai syarat kelulusan. Karena, seperti penuturan Kepala Dispendik Kota Surabaya, Bapak Sahudi, standar komitmen kelulusan siswa SD metropolis ini “hanya “ 2,81. Angka itu didapat dari rata-rata standar kelulusan yang disetorkan sekolah kepada dinas pendidikan. Dan uniknya, meskipun nilai tersebut tergolong minim, itu pun masih bisa dilanggar oleh sekolah yang ngotot siswanya lulus.. “Sekolah boleh melanggar standar komitmen kelulusan tersebut, tapi harus melaporkan kepada kami,” ujar mantan kepala SMAN 15 itu.

Seiring dengan itu, guna meraih kelulusan maksimal, bulan-bulan lalu, sekolah telah mendesain pembelajaran untuk sukses ujian. Usaha gigih yang dipakai manajemen sekolah pun bermacam-macam. Mulai dari pematangan penguasaaan materi pelajaran, sampai mengarah ke spiritual. Les-les sepulang sekolah, atau tambahan jam pelajaran menjadi program yang wajar ada. Bahkan, jika tak ada, ada kalanya wali murid menanyakannya keseriusan sekolah dalam mempersiapkan anaknya untuk ujian. Demikain pula dengan upaya penguatan ruhani lewat shalat malam dan istigosah bersama. Luar biasa!

Namun, benarkah hajat tahunan ini hanya menjadi milik sekolah? Tentu tidak. Ada pihak lain yang turut “memanfaatkan” rutinitas ini untuk mengatrol bisnis mereka, yaitu LBB (Lembaga Bimbingan Belajar). Bagi LBB, momen ujian dimanfaatkan sebagai salah satu poin yang digemborkan ke orang tua untuk membelajarkan anaknya di LBB tersebut. Mereka menawarkan solusi bagi kekhawatiran orangtua akan prestasi belajar anaknya. Mudahnya, seolah mereka bicara, “Jika ingin sukses ujian, ikutlah bimbingan di LBB kami.” Bahkan berdasar penuturan beberapa teman, sudah bukan hal baru jika sekolah merangkul LBB untuk mengisi bimbingan pelajar di sekolah mereka. Jika sudah demikian, berati ada dua pemain yang menjadi katalis peningkatan kemampuan siswa: guru sekolah dan LBB.

Sehubungan dengan itu semua, wajarlah bila kemudian muncul pertanyaan. Bila anak sukses ujian, sedangkan sang anak ikut bimbingan belajar, itu prestasi siapa? Prestasi sekolah atau LBB? Atau semata-mata prestasi siswa? Inilah pertanyaan yang mungkin perlu direnungkan kembali. Bukan untuk menggugat sekolah atau LBB. Tapi lebih semacam upaya mempertanyakan peranan sekolah dalam melaksanakan amanah dalam mendidik siswa. Karena, bagimanapun juga, institusi inilah yang hendaknya didorong untuk mendidik siswa sesuai dengan fungsinya. Jangan sampai keberadaannya termarginalkan oleh LBB.

Tentu menjadi kebanggaan bagi sekolah bila ada siswanya yang meraih nilai UAN tertinggi di wilayahnya. Karena itu merupakan poin positif dalam melambungkan nama sekolah. Namun, benarkan prestasi itu muncul semata-mata sebagai buah upaya sekolah? Ini yang perlu dipertanyakan. Karena bukan tidak mungkin, ada faktor lain yang justru dominan mengalir di dalamnya. Misalnya, dengan nambah jam belajar di luar kelas. salah satunya lewat privat atau LBB. Inilah yang mestinya direkam secara kritis oleh wali murid di Metropolis. Hingga mereka benar-benar bisa memilih sekolah yang sesuai dengan anaknya. Bukan hanya berdasar kata orang, atau label favorit atau nonfavorit saja.

Luar biasa memang, penetrasi LBB ke dunia pendidikan sekarang ini. Kemunculannya yang dulu hanya dianggap sebagai teman belajar siswa, kini menguat menjadi instansi pendidikan itu sendiri. Ada beberapa nama LBB yang kini hadir di Surabaya. Ada yang memang hanya ada di Surabaya saja, namun ada pula yang tergolong LBB besar dan ternama. LBB tersebut telah sukses menjalarkan tangannya di kota-kota tanah air ini. Salah satunya Primagama yang familiar dengan wajah Rano “si Doel” Karno.

Guna menancapkan taringnya di sebuah sekolah, mereka tak segan-segan mengadakan try out gratis. Dan arahnya bisa ditebak, kegiatan ini ibarat kail yang akan menghasilkan bondongan siswa yang ikut nambah kaweruh di tempatnya. Dan jika siswa didikan mereka berhasil diterima di sekolah atau perguruan tinggi ternama (ITS, Unair, UGM, dll), mereka akan memampangkannya di depan tempat bimbingan. Mungkin sebagai pembakar spirit, atau menunjukkan prestasi yang telah dicapai.

Secara pragmatis, kehadiran LBB dan semacamnya dapat menjadi partner sekolah atau orang tua untuk meningkatkan prestasi anak didiknya di sekolah. Jika targetnya hanya kognitif saja. Misalnya sukses UAN, masuk perguruan tinggi, dll. Namun secara menyeluh, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Yaitu, sekolah tak boleh hanya mengurusi kognitif, tapi juga harus mengembangkan psikomotor dan afektif siswa. Di lain pihak, biasanya ranah psikomotor dan afektif tak diurusi di lembaga-lembaga tersebut. Padahal, dua aspek itulah yang menjadi semangat KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang berganti nama dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Masalah pengelolaan pendidikan, dewasa ini memang tak lebas dari penggunaan jaringan. Maksudnya, perlu membangun jaringan kerja sama dengan lembaga-lembaga sejenis yang memiliki tujuan sama. Hingga sekolah yang bersangkutan mampu mengukur prestasi anak didiknya di antara siswa-siswa sekolah yang lain. Hingga, istilah jago kandang tak muncul di sekolah tersebut. Sekat-sekat tembok sekolah perlu disingkirkan sejauh mungkin. Sekolah lewat manajemen terukur harus mampu menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki tujuan sama dengan sekolah-sekolah lain. Jadi, jangan hanya bertarung sendirian. Tapi gunakan kemampuan kebersamaan untuk menyelesaikan masalah pendidikan. Apakah hanya dengan sesama sekolah saja kerja sama itu dibangun? Tak ada salahnya juga dengan LBB. Asalkan, tetap terkontrol.

Berkaitan dengan siswa yang ikut belajar di luar sekolah, secara umum, sikap sekolah di Surabaya cukup beragam. Ada sekolah yang membiarkan, bahkan merasa terbantu. Namun ada juga yang memohon orangtua untuk tetap memercayakan masalah pendidikan anaknya kepada sekolah. Fenomena kedua ini biasanya didasari pada tingkat kelelahan fisik dan emosi siswa yang telah belajar seharian di sekolah. Terutama sekolah berjenis full day. Lagi pula, tak semua masalah pelajaran di sekolah dapat diobati dengan les privat atau ikut LBB. Bisa jadi ada aspek lain yang menyebabkan anak kurang memahami pelajaran.

Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah, sekolah harus mampu menunjukkan prestasi secara independen. Maksudnya, prestasi yang diperoleh sekolah haruslah benar-benar jerih payah sekolah. Bukan karena siswa belajar di tempat lain, lalu membuat harum nama sekolah.

efendialhikmah@yahoo.co.id

* Tulisan tersebut dimuat di Radar Surabaya, 8 Juni 2009
** Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Selasa, 14 Juli 2009

Perpustakaan Sekolah => MInat Baca ?

Ammar *)

Dalam perkembangan peradaban manusia, buku memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kendati demikian, kedahsyatan buku tentu tidak akan ada apa-apanya jika benda tersebut hanya dipajang, tidak pernah disentuh dan dibaca. Dan tampaknya, inilah masalah kita saat ini. Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. Walaupun demikian,
kemampuan membaca tidak terjadi secara otomatis karena harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat membaca.
Minat baca memang dapat dikaitkan dengan kemampuan membaca, dan kemampuan membaca berhubungan dengan bacaan. Oleh sebab itu, bacaan merupakan faktor penting yang perlu disediakan untuk mengasah kemampuan membaca untuk kemudian meningkatkan minat baca. Lemahnya kemampuan membaca, sangat boleh jadi karena kesempatan mengasah lewat bacaan masih langka, apakah karena alasan kesibukan, atau buku bacaan masih menjadi barang mahal. Perpustakaan walaupun bukan satu-satunya indikator minat baca, namun memegang kendali dalam hal memacu minat baca dalam kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang belum menempatkan bahan bacaan sebagai kebutuhan primer yang harus dipenuhi.
Kebanyakan atau bahkan hampir keseluruhan jumlah SD kita miliki jumlahnya sekitar 148.262 SD sedangkan jumlah 132.718 (89,5%) yang memiliki perpustakaan, sedangkan sekitar 15.544 (10,5 %) tidak memiliki fasilitas perpustakaan. Buku pelajaran dan buku bacaan umum tidak terkoleksi secara lengkap. Bahkan, banyak SD yang tidak memiliki ruang khusus untuk perpustakaan dan tidak memiliki petugas khusus yang mengelola perpustakaan. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa SD kita tidak memiliki kebiasaan membaca yang memadai. Padahal masalah minat membaca merupakan persoalan yang penting dalam dunia pendidikan. Anak-anak SD yang memiliki minat membaca tinggi akan berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya anak-anak SD yang memiliki minat membaca rendah, akan rendah pula prestasi belajarnya (Wigfield dan Guthrie, 1997).
Untuk itu diperlukan adanya perberdayaan perpustakaan sekolah dengan fasilitas dan koleksi buku bacaan yang memadai khususnya sekolah dijenjang SD karena di usia ini pihak sekolah bisa membentuk dan menumbuhkan minat baca bagi siswa untuk keranjingan membaca dan siswa benar-benar memanfaatkan fasilitas perpustakaaan yang ada di sekolahnya. Tentu saja kerja sama oleh semua pihak sangat dibutuhkan antara lain kepala sekolah, wali kelas, guru pengajar, pustakawan, karyawan, wali murid serta peranan pemerintah untuk membantu dan memberikan motivasi kepada siswa. Marilah kita bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk mewujudkan perpustakaan sekolah yang handal.

*) Pustakawan SDBI Al Hikmah

Kamis, 11 Juni 2009

Status SBI, Sebuah Renungan Bersama

Ratih Fitria Dewi *)

Tulisan ini saya buat ketika rekan-rekan saya sedang sibuk-sibuknya memperjuangkan sertifikasi. Ketika melihat mereka berjuang sekuat tenaga sehingga keluarlah niat saya untuk ikut “berjuang” keluar dari zone nyaman rutinitas sebagai guru, lalu coba-coba menulis, hitung-hitung sebagai trial & error semoga saja bisa memberi manfaat.

Ketika sekolah ini mendapat status sebagai Sekolah Bertaraf Internasional adalah sebuah rasa kebanggaan di hati karena ini untuk pertama kalinya sebuah lembaga yang bervisi dakwah melalui misi pendidikan memulai merintis jalur internasional. Bagaimana tidak ini berarti kita sudah berdiri sebagai umat yang bergabung dengan umat lain dibelahan bumi lain dalam ikatan internasional. Dan saya yang masih belum ada apa-apanya ini bisa pula terlibat di dalamnya.
Allah telah menegaskan posisi kita sebagai khoiru ummah (umat terbaik) maka tidak selayaknya kita dengan status SBI ini kemudian melanggar dan boleh keluar dari semua identitas islami atas dasar status internasional. Penggunaan bahasa inggris yang mulai kita beri proporsi perhatian hendaknya hanya sebuah sarana untuk mengokohkan dan semakin menebalkan konsep kita dalam menyebarkan konsep Islam rahmatan lil alamin. Sebagai bagian dari umat lain dipenjuru dunia lain untuk berdiri bersama memakmurkan bumi dan segala isinya.
Kedua, hendaknya konsep internasional yang kita raih bisa menjadi pemecut semangat kita untuk mengambil hal-hal positif dari bangsa Raffles ini. Inggris dikenal semangat pantang menyerahnya, demokratis dalam bersikap, namun amat bangga dengan tradisi leluhurnya sehingga sering disebut bangsa konservatif.
Begitu pula kita sebagai seorang guru. Nilai pantang menyerah dalam menghadapi permasalahan anak didik, mau semakin melebarkan telinga untuk mendengar keluh kesah atau cerita anak-anak kita dan bangga dengan izzah sebagai muslim.
Ketiga, status internasional ini adalah sebuah amanat besar untuk menjawab tantangan hadirnya “produk” sekolah yang berbasis dakwah dalam kancah internasional, yaitu hadirnya generasi muslim sejati, generasi mandiri, mampu mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sekaligus mampu menyebarkan rahmat bagi semesta alam.
Itulah sebabnya saat ini saya sedang berusaha keras dan terus belajar menanamkan itu semua dalam praktek bertahap saat mengajar ataupun sebagai mitra kelas. “Menggarap” keberanian untuk mempraktekkan bahasa Queen Elizabeth ini dalam kegiatan sehari-hari. Like Mr. Fadholi (my shensei di English Learning) have said to me : “Practice makes perfect” . Juga belajar menjadi guru yang lebih banyak mendengarkan ketimbang sekedar mendengar ketika anak-anak bercerita hal-hal “remeh” macam Adhnan yang bercerita tim sepak bola kesayangannya ataupun Rafi yang sangat kagum dengan Ultramannya.Semoga semangat internasional dalam bahasa komunikasi kita, juga berimbas pada cara pandang dan ketakwaan kita yang men”dunia”..

*) Guru SDBI Al Hikmah

Selasa, 09 Juni 2009

Mengapa bertanya ”mengapa” lima kali?

Alex Murgito *)

Anda yang mempunyai anak kecil, setiap hari anda akan menemukan pertanyaan “Apa ini, Pa?” “Apa ini, Ma?” “Kenapa kok begini?”
Sering pertanyaan yang diajukannya tidak berhenti sampai di sana. Dia akan terus mengejar dengan pertanyaan “Kenapa?” atau “Mengapa?” sampai kita tidak bisa menjawab.


Lewat pertanyaan-pertanyaan lugu seperti itu, mereka belajar hubungan sebab akibat. Jadi, tidak salah jika kita menganggapnya sebagai makhluk pembelajar.
Sayangnya, kemampuan tersebut berangsur-angsur berkurang begitu mereka beranjak dewasa. Bahkan hilang sama sekali. Mereka menjadi terbiasa menghafalkan data dan fakta.

Kita percaya pada pendapat yang dimasukkan ke kepala kita tanpa menilai secara kritis. Kita juga jarang mempertanyakan “kenapa” dan “mengapa” ketika diminta mengerjakan sesuatu.
Padahal pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering menjadi dasar kreativitas dan inovasi. Para inovator yang berhasil adalah orang-orang yang masih mampu mempertahankan sifat-sifat rasa ingin tahu bak seorang anak kecil.

Kita bisa mengulang masa kecil kita untuk meningkatkan kreativitas kita yang telah berkurang atau bahkan hampir hilang. Kita bisa memakai sebuah teknik yang dikenal sebagai 5-Whys (5-Mengapa) yang diperkenalkan oleh Toyota. Melalui teknik ini, kita diajak kembali untuk terus bertanya “Mengapa” sekitar 5 kali sampai kita mendapatkan jawaban final. (Angka 5 bukanlah angka mati. Mungkin Anda cuma perlu bertanya 3-4 kali, atau kadang-kadang 6 kali. Tetapi angka 5 dianggap cukup representatif.)

Pada awalnya, teknik ini digunakan untuk mengidentifikasikan masalah di jalur produksi yang muncul sampai ke akar permasalahan yang sebenarnya.
Misalnya, di pabrik dijumpai bahan baku yang sudah kadaluarsa. Dengan memakai teknik 5-Whys ini kita mengajukan pertanyaan “Why” yang pertama, “Mengapa bisa terjadi?”. Jawaban: “Karena barang-barang baru selalu diletakkan di atas sehingga barang-barang di bagian bawah jarang terpakai.”
Jangan puas dengan jawaban tersebut terlebih dahulu karena Anda baru memakai 1 “Why” dan masih ada 4 “Whys” yang tersisa.
Kejar terus dengan pertanyaan, “Mengapa cara tersebut dipakai?” Jawabannya mungkin, “Karena supervisor yang meminta kami melakukannya.”
Why yang ketiga: “Mengapa supervisor meminta begitu?” Jawaban berikutnya bisa jadi, “Karena dia menganggap ini bukanlah masalah penting.”
Why yang keempat, “Mengapa dia menganggap itu bukan masalah penting?” Jawaban yang datang kemudian, mungkin seperti ini: “Karena kenaikan gaji dan bonusnya dinilai berdasarkan keluaran mesin, bukan mengurus bahan baku.” Anda mungkin tidak perlu bertanya lebih lanjut bila merasa jawaban terakhir sudah menyentuh akar permasalahan.

Dari contoh di atas kita bisa melihat bagaimana pertanyaan “Why” yang terus menerus bisa menemukan masalah sebenarnya. Masalah bahan baku yang kadaluarsa tersebut bukan sekadar masalah kelalaian, tetapi merupakan masalah yang lebih sistemik yang menyangkut sistem kompensasi karyawan. Bila jumlah bahan baku yang rusak tersebut cukup besar, maka perusahaan perlu memperbaiki masalahnya tepat di sumbernya, yaitu di sistem kompensasi.

Cara ini termasuk murah meriah dan sangat berguna. Para anak kecil memakai teknik ini setiap hari dan menjadi bagian dari hidup mereka. Para guru, sangat sering menjumpai hal yang demikian. Karena kita semua pernah menjadi anak kecil, kita hanya perlu melatih kembali pemakaian teknik ini.
Mulailah bertanya “Mengapa?” terus menerus mulai sekarang.

*) Guru SDBI Al Hikmah

Rabu, 27 Mei 2009

Kualitas Pendidikan dalam Pilinan Uang


Mohammad Efendi *)

Menepiskan anggapan bahwa pendidikan tidak perlu modal besar, untuk era kini, mungkin hanya akan melahirkan cap gombal. Karena kenyataan telah membelalakkan mata kita, bahwa uang sering kali menjadi penentu kualitas pendidikan.

Ini telah terbukti, baik dalam ruang sempit maupun luas. Dalam lingkup pribadi, satuan pendidikan, maupun nasional. Hingga sebuah kegetiran sering menjadi peneman duka kaum papa, karena tiket memperoleh kelayakan ilmu tak mereka dapati. Tak salah kiranya jika sitir keputusasaan melagu dalam dada mereka: orang miskin dilarang sekolah. Hal inilah yang memurukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negeri ini ke peringkat 155, dari 150 negara.
Seorang teman wadul kepada saya; Mengapa sekolah baik itu mahal? Gelagapan saya mendapati kenyataan, bahwa ternyata ia telah menemukan satu garis ruwet yang terangkai dengan tak indah dalam variabel pendidikan kita. Saya pun manggut-manggut.
Mahalnya mewujudkan pendidikan berkualitas pasti tak hanya memusingkan dia sendiri. Tapi juga pemerintah kita. Saking semangatnya mengerek kualitas pendidikan Indonesia, sampai-sampai mereka berani mengalokasikan dalam APBN, 20 persen untuk sektor pendidikan. Meskipun kenyataan ternyata berbicara lain. Jauh panggang dari api. Dari seperlima anggaran APBN, hanya sekitar 9,1 persen saja yang bisa dipenuhi. Upaya mengangsur kuaitas pendidikan juga dilakukan pemerintah lewat BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Tujuan bantuan ini adalah untuk mengurangi beban wali murid dalam membayar uang sekolah anaknya. Namun, ironisnya, yang muncul di media massa, masih ada juga sekolah yang menarik biaya ini-itu dari siswa. Atau mengakali meninggikan pungutan sekolahnya, hingga wali murid tetap harus membayar kekuranyannya. Senapas dengan BOS, baru-baru ini sekolah menerima aliran dana BOS buku. Sesuai namanya, BOS buku ini dialokasikan untuk pembelian buku paket siswa. Buku paket yang tercover tunjangan ini ada tiga: Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Masing-masing buku paket mendapat tunjangan 20 ribu rupiah. Namun sayang, pencairan dana ini tak sesuai waktu. Pencairannya dilakukan pada pertengahan semester. Hingga dapat dipastikan, tetap saja wali murid merogoh kantongnya untuk membeli buku paket. Karena pembeliannya dilakukan di awal semester.
Sisi lain yang membuat seretnya guliran roda pendidikan di negeri ini memang masih mahalnya buku. Namun, bukan tak ada contoh negara yang berhasil menekan harga buku sedemikian rupa, hingga bisa dijangkau khalayak umum. Bukan hanya buku-buku pelajaran yang ringan di katong, tapi juga koran dan majalah. Negara tersebut adalah India. Sebuah negara yang kian mengukuhkan cengkeramannya di Asia, selain Tiongkok. Resep yang dijalankan India tidak rumit; subsidi kertas. Guna menekan harga buku-buku asing, pemerintah tak segan-segan bekerja sama dengan penerbit-penerbit besar, seperti Penguin Book. Tujuannya, agar buku yang mereka terbitkan, dapat dicetak di India saja. Hingga akhirnya, banderol harga yang sampai di konsumen bisa murah. Ini bisa ditiru pemerintah. Alokasi subsidi BBM bisa sebagian dialihkan ke sektor ini. Melongok ke belakang, sebenarnya keinginan memurahkan harga buku sebenarnya telah disampaikan oleh Bung Karno. Dalam sebuah rapat akbar, beliau pernah memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masa itu, Priyono, untuk menerbitkan buku murah untuk rakyat.
Sebagai penutup tulisan ini, disadari, bahwa sesungguhnya beratnya beban pendidikan Indonesia tak selayaknya hanya diserahkan pada pemerintah. Memosisikan pemerintah sebagai single fighter hanya akan melahirkan harapan semu belaka. Oleh karenanya, butuh pemberdayaan elemen-elemen masyarakat. Kita mensyukuri adanya wadah-wadah katalis kualitas pendidikan yang kini muncul di Surabaya dan sekitarnya. Semacam KPI (Konsorsium Pendidikan Islam), dan lainnya. Tapi, untuk lahan garapan seluas Indonesia raya, butuh puluhan, mungkin ratusan wadah seperti itu. Pertanyaannya, maukah kita mengambil bagian untuk itu?
efendialhikmah@yahoo.co.id

*) Guru SD Al Hikmah Full-Day School Surabaya

Selasa, 19 Mei 2009

Mengkritisi Hasil Rakornas Revitalisasi Pendidikan Nasional: Efektifkah Unas Model Paket?


Mohammad Efendi *)

Perdebatan tentang Ujian Nasional (Unas) seakan tak pernah habisnya. Sikap pro-kontra, atau ide segar selalu mengemuka. Terutama masa-masa usai Unas seperti sekarang. Sedikit menengok ke belakang, ide kreatif yang beralur pada keberagaman mutu pendidikan Indonesia mengemuka pada Rakornas Revitalisasi Pendidikan Nasional tahun lalu. Helatan diskusi pendidikan yang diselenggarakan pada akhir Agustus ini merekomendasikan perlunya modifikasi Unas.

Unas mendatang tak sama dengan Unas tahun lalu. Penyelenggara Unas mendatang akan membuat tiga paket soal; paket A, B, dan C. Paket-paket soal tersebut dibuat untuk menyesuaikan level kualitas tiap-tiap sekolah. Sekolah terbaik kualitas pendidikannya akan menerima Unas Paket A. Sekolah yang sedang-sedang saja kualisa pendidikannya menerima Unas Paket B. Sedangkan sekolah yang terkategori kurang, siswanya harus cukup puas mengerjakan Unas Paket C.
Memang, siapapun orangnya, baik tim atau perorangan, bila diminta menyusun sebuah format Unas yang sesuai dengan kondisi akademis Indonesia pastilah dibuat puyeng. Bagaimana tidak. Variabel-variabel yang turut mewarnai bentuk ideal Unas sangatlah tidak mendukung terbentuknya sebuah standar evaluasi yang ideal. Seperti yang kita ketahui, sebuah standar yang ideal itu menuntut kesamaan (atau kenyarissamaan) semua aspek pendukung. Semua itu meliputi segala hal yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan proses pendidikan; kualitas guru, sarana pendidikan, dan kurikulum, serta pendekatan pembelajaran. Sedang fatka di lapangan membuktikan, kualitas akademis di wilayah Indonesia belumlah merata. Jangankan berbicara tentang kualitas proses belajar-mengajar, masalah guru dan bagunan fisik sekolah saja masih kerap mencuat sebagai masalah utama pendidikan di daerah tertinggal. Sudah menjadi rahasia umum, jika sebagian besar guru akan berusaha menyelamatkan diri dari penempatan di daerah tertinggal. Bila perlu, uang dan koneksi kerap bicara. Walhasil, satu sekolah kadang hanya diajar oleh dua orang guru saja. Itu yang pernah terjadi di pelosok Papua, Yahukimo. Masalah krusial selanjutnya adalah kondisi fisik sekolah. Meski tiap tahun APBN dan APBD mengalokasikan dananya untuk renovasi bagunan sekolah, kenyataannya, masalah kondisi kelas yang tak layak digunakan masih sering dikeluhkan. Tak hanya di luar Jawa, di Jawa pun masih kerap dijumpai. Oleh karena itulah, jika berpijak pada keharusan tersebut, wajar jika hingga kini pemerintah belum mampu menyusun sebuah standardized test (tes yang distandarkan) yang ideal.
Bagaimana dengan ikhtiar memformat Unas model paket ini? Sudah cukup idealkah dilakukan di Indonesia? Elin Driana, pada sebuah tulisannya menuturkan, sepintas gagasan ini menyiratkan keadilan. Namun, diakui atau tidak ada potensi masalah yang tersimpan di dalamnya. Tidak mustahil, kontroversi seputar Unas akan menjadi-jadi jika tes model ini jadi diberlakukan. Menurut peserta Program Doktor Riset dan Evaluasi Pendidikan di Ohio University ini, kontroversi itu menyangkut, pertama: alat ukur penentuan level sekolah peserta Unas. Sudah validkah alat ukur tersebut? Lalu, bagaiman proses pengukuran mutu sekolah? Kedua, gangguan yang ditimbulkan pada proses belajar mengajar. Bisa dibayangkan, sekolah yang berlevel A, pasti memberikan bobot latihan lebih tinggi dibandingkan dengan level B dan C. Ini menimbulkan kesenjangan materi pelajaran (kurikulum). Dan ketiga, berkaitan dengan citra sekolah. Sekolah berlevel C pasti kurang diminati murid baru. Sedang siswa yang bersekolah di satuan pendidikan itu pasti menanggung beban mental yang berat. Lebih parah jika nanti ia dicap sebagai anak bodoh oleh teman seangkatan yang sekolah di sekolah level A dan B. Masalah keempat, menyangkut ijazah yang dikeluarkan sekolah. Apakah di ijazah tersebut ada pelabelan A, B, dan C atau tidak? Ini dimungkinkan, karena alat ukur yang digunakan beda. Jika ada, samakah perlakuan bagi ketiga jenis ijazah itu? Kita tunggu saja akhirnya.
Jika dikembalikan pada filosofi standar, rasanya ini bertentangan sekali. Standar dapat diartikan sebagai sebuah ukuran yang bisa dijadikan patokan suatu hal. Patokan yang bisa dianggap mewakili secara menyeluruh akan sesuatu yang bersifat jamak. Berdasar pada hal tersebut, maka pelevelan sekolah tentulah bertentangan dengan filosofi tersebut. Terlebih lagi bila kemudian standar akhir evaluasinya dibeda-bedakan. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan tujuan awal.
Namun demikian, kita menyadari, menggunjingkan Unas tak akan ada habisnya. Langkah terbaik adalah membenahi vaeriabel-variabel yang berkaitan dengan standardized test. Apapun model Unas yang didesain Depdiknas, pasti tak akan menyentuh hasil maksimal, selama kesenjangan kualitas pendidikan masih menempatkan dirinya sebagai kanker pendidikan. Prinsip standardisasi adalah kesamaan. Karena itu, penilaian yang benar-benar standar akan terwujud jika semua aspek pendukungnya benar-benar teratur dan berkualitas merata. Jika masih terdapat kesenjangan yang mencolok antara satuan pendidikan satu dengan satuan pendidikan yang lain, jangan bermimpi sebuah standardisasi akan terwujud. Ibarat mimpi di siang bolong.
Bolehlah sekarang pemerintah, lewat tangan Depdinas merumuskan Unas model terbaru, yaitu Unas model paket A, B, dan C. Tapi dapat dipastikan, buntut dari penerapan ini akan berbuah kontroversi di masyarakat. Kontroversi yang kerap menghbiskan energi positif untuk membenahi negeri ini. Belajar dari kekisruhan Unas tahun lalu, tarik-ulur Unas malah berujung pada tuntutan di meja hijau. Siswa dan wali murid yang merasa bisa, tapi tak lulus Unas, mengadu ke Komnas HAM dan YLBHI. Mengenaskan. Niat baik pemerintah untuk menyetandarkan evaluasi pendidikan malah berujung sebuah tuntutan. Jadinya, banyak energi terbuang percuma di sana. Energi yang sejatinya bisa digunakan secara efektif untuk membenahi kualitas bangsa yang kian terpuruk di mata dunia. Berdasar pada laporan survei Institue of Management Development (IMD) tahun ini, daya saing kita di peta dunia berada di posisi ke-60. Turun satu tangga dari tahun sebelumnya. Di bawah kita ada Venezuela. Namun, negeri jiran, Malaysia, bercokol di peringkat 23. Thailang di posisi 32. dan seperti biasanya, Singapura selalu berada di peringkat papan atas, yaitu ke-3.
Langkah terbaik yang hendaknya dipilih oleh Depdiknas dan BSNP adalah membuat langkah terpadu; pertama, perumusan Unas, dan kedua, mendorong pemerataan kualitas pendidikan di seluruh hamparan nusantara. Rumusan Unas yang dihasilkan hendaklah mengakomodir potensi-potensi nyata yang ada di pendidikan Indonesia. Dan yang lebih penting lagi adalah, sosialisasi rumusan Unas kepada satuan-satuan kerja dan satuan pendidikan di bawahnya. Ini penting! Sangat penting. Karena sesungguhnya, kesepahaman merupakan peredam kontroversi yang selama ini mengiringi pemberlakuakn Unas. Membuang energi percuma. Kesepahaman ini menyangkut pola pandang yang sama, bahwa Unas yang diadakan ini adalah Unas yang belum ideal. Ibarat menutup plester di kulit yang luka. Ini disebabkan masih menganganya kesenjangan kualitas satuan pendidikan yang ada di Indonesia.
Langkah kedua yang mutlak dilakukan Depdiknas dan BSNP adalah mendorong percepatan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh penjuru tanah air. Ini sejatinya langkah yang paling urgen, dan paling diperlukan untuk dapat merumuskan evaluasi yang distandarkan. Ibarat sebuah bangunan, pemerataan kualitas sekolah adalah fondasinya. Langkah riil yang bisa dilakukan adalah mendesak realiasasi alokasi 20% APBN dan APBD. Realisasi ini begitu mendesak dilakukan untuk dilakukan. Dan disadari, langkah ini tak akan semudah membalik telapak tangan. Butuh proses yang makan waktu. Karena hingga kini, meski telah diketok keputusannya, namun belum bisa diwujudkan. Pos-pos anggaran lain masih mengoda untuk digelembungkan, merampas jatah pos pendidikan. Belum teralisasinya jatah 20% belanja negara (APBN) untuk pembiayaan pendidikan ini serupa dengan belanja daerah (APBD). Hingga kini, belum ada satu daerah pun yang ammpu memenuhi target tersebut, termasuk kota Metropolis, Surabaya. Urgensi realisasi pos 20% pendidikan ini adalah agar peningkatan kualitas pendidikan naik signifikan. Tidak melata, atau stagnan. Kualitas guru meningkat karena terkatrol oleh pelatihan-pelatihan, fasilitas sekolah yang bobrok juga bisa lekas diperbaiki. Selain itu, untuk menggairahkan penempatan guru di daerah tertinggal, perlu realisasi janji insentif bagi guru. Ini semua butuh uang. Butuh dana yang besar. Dan tuntutan realisasi dana pendidikan maksimal sesuai dengan keputusan adalah sebuah kepastian. Jadi, apalagi yang ditunggu? efendialhikmah@yahoo.co.id

*) Guru SDBI Al Hikmah

Senin, 04 Mei 2009

Melirik UKBI tuk Gantikan Unas bahasa Indonesia


Mohammad Efendi *)

Pernyataan Daniel M. Rasyid, pengamat pendidikan Surabaya, tentang model Unas Bahasa Indonesia bisa merusak kemampuan berbahasa siswa menarik untuk ditanggapi. Pernyataan tersebut muncul kisaran akhir tahun 2006. meski agal lama, namun hal tersebut tetap menarik untuk dijadikan bahan renungan. Terutama pada bulan-bulan ini, Unas dan Uasbn sedang berlangsung.

Menurut beliau, tes Unas, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia, belum layak untuk disebut mewakili kemampuan berbahasa siswa secara menyeluruh. Karena model soalnya monoton pilihan ganda saja.
Saya teringat ucapan Shoim Anwar di sebuah training. Secara bergurau, sastrawan Surabaya ini mengomentari model soal pilihan ganda dan isian sebagai soal “eceran”. Mengapa? Karena jawabannya sedikit-sedikit, mirip orang mencicil kredit. Hingga kemampuan utuh peserta tak dapat diketahui.
Seperti yang kita ketahui, tes Unas yang selama ini diadakan, dilihat dari sudut pandang kebahasaan, hanya bermain pada sektor membaca dan menulis saja. Padahal, aspek-aspek kebahasaan itu ada empat: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, representasi tes akhir yang baik adalah yang mampu mewadahi itu semua, bukan parsial.
Mungkin, alat tes yang tepat, yang dimaksudkan beliau adalah UKBI (Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia). Sekedudukan dengan TOEFL (Test of English for Foreign Language), UKBI bertujuan mengetahui tingkat kemampuan berbahasa seseorang. UKBI sebagai sarana pengujian kemampuan berbahasa Indonesia, telah memperoleh pengukuhan Mendiknas dengan surat keputusan Mendiknas Nomor 152/U/2003. Hasil tesnya berupa pemeringkatan mulai dari tingkat istimewa sampai terbatas. Tingkatan ini disesuaikan dengan nilai yang diperoleh peserta.
Saya berkeyakinan, bahwa penguatan kebahasaan nasional bisa dimulai dengan memberikan porsi yang proporsional dalam kurikulum pendidikan. Selama ini, menurut saya, Bahasa Indonesia yang tersampaikan dalam jalur edukasi seolah-olah mengalami stagnasi. Tak ada kemajuan yang signifikan. Meski telah beberapa kali kurikulum berganti, termasuk kurikulum Bahasa Indonesia, tak ada beda menonjol aplikasinya di kelas antara kurikulum satu dengan lainnya. Seringkali roh pembelajaran yang diharapkan muncul malah mandeg pada proses pembelajaran di kelas. Ranah-ranah kemampuan berbahasa yang tercakup semuanya dalam pedoman materi, sering kali hanya muncul satu, atau dua saja. Dari empat kemampuan berbahasa: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis, sering kali yang teropeni cuma membaca dan menulis saja.
Karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia, yang mengharuskan guru memberikan porsi seimbang pada masing-masing ranah dalam pembelajaran masih belum jalan. Padahal, ini telah disosialisasikan dalam pengenalan Kurikulum Bahasa Indonesia sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran). Lebih-lebih jika sampai pada tataran evaluasi. Model ujian pencil and paper test (tes tulis) masih meraja. Dengan kondisi seperti ini, dapat dipastikan, betapa merananya ranah-ranah yang lain, yang tak dapat dinilai hanya dengan pencil and paper test.
Dengan kenyataan sedemikian itu, pantaslah kiranya bila selalu saja ada kesenjangan antara mutu ideal lulusan dengan kenyataan mutu yang dihasilkan. Ambil contoh, sejak kelas 6 SD sampai SMA, siswa telah mendapatkan materi pidato. Namun, apa kenyataannya? Hanya segelintir saja lulusan yang memenuhi harapan itu. Selebihnya, meski hanya sekadar maju ke depan panggung saja masih maju-mundur. Contoh lainnya, kemampuan menulis lulusan SMA kita. Kenyataan bahwa mereka telah menerima materi menulis (baik surat, laporan, cerita, sinopsis, karangan) di bangku belajar, seolah tak berbekas kala mereka disodori kertas untuk menghasilkan tulisan bermutu. Inilah gambaran umum ketidakberhasilan mesin pengajaran sekolah menerjemahkan kurikulum dalam pembelajaran.
Hingga, keidiealan kurikulum Bahasa Indonesia yang diharapkan mampu menerobos kesulitan-kesulitan siswa dalam berbahasa, tak terbukti di ujung akhir tahun pelajaran. Sedikit banyak, kegagalan ini merupakan sumbangsih orientasi tes akhir yang selalu berwujud tes tulis. Hingga, guna mengejar target nilai tinggi di Unas bahasa Indonesia, keterampilan berbicara dan mendengar tak terlatih dengan baik. Coba saja perhatikan aktivitas siswa kelas 3 SMP/SMA pada semester kedua. Siswa dijejali dengan prediksi soal-soal Unas. Kegiatan pembelajaran praktis hanya bertumpu pada latihan mengerjakan berbagai model soal. Aspek kreatif kebahasaan tak terurus.
Dalam skala luas dan berkelanjutan, ini akan berdampak buruk pada kualitas SDM Indonesia. Padahal, potensi bahasa Indonesia amatlah subur dalam blantika kebahasaan dunia. Coba kita lirik data pengguna bahasa-bahasa di dunia. Bahasa Indonesia (yang disebut Malay-Indonesian) menempati sepuluh besar. Bahkan melebihi bahasa bintang sepak bola Zinedin Zidan, Prancis. Secara berurutan, sepuluh besar itu adalah bahasa Mandarin (digunakan 1,075 miliar manusia), Inggris (524 juta), Hindustan (496 juta), Spanyol (425 juta), Rusia (275 juta), Arab (256 juta), Bengali (215 juta), Portugis (194 juta), Malay-Indonesian (176 juta), Prancis (129 juta). Dengan pengguna bahasa sebesar itu, sayang proses pendidikan hanya mampu menjadikan mereka berkemampuan bahasa pas-pasan, dan tak kreatif berbahasa.
Bisakah dijadikan jawaban, bila Unas Bahasa Indonesia digantikan UKBI? Di tengah pro kontra Unas yang masih kerap terdengar, ide ini boleh jadi menjadi satu alternatif. Bahkan boleh dikatakan, ini adalah tes yang ideal. Karena mengukur empat sektor kemampuan berbahasa siswa. Bahkan, selain jalan untuk membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di dunia akademis, ini akan memperkuat identitas bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
Namun yang pasti, ada pertanyaan yang perlu mendapat jawaban “sudah” jika langkah ini diambil. Pertama, sudahkan siapkah perangkat pembelajarannya? Hingga saat ini, perangakat pembelajaran masih menjadi kendala di beberapa sekolah. Terutama sekolah-sekolah pinggiran. Padahal, ini amat urgen keberadaannya untuk menyukseskan belajar siswa. Pelajaran bahasa Indonesia, yang menaungi empat ranah kebahasaan, membutuhkan media-media pendukung pembelajaran.
Kedua, sudahkan alat tes memuat segenap Kompetensi Dasar yang dipelajari siswa? Saya pikir, suatu tantangan besar bagi pembuat alat tes jika ingin mengukur kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis siswa. Tantangan ini berhubungan dengan kemampuan ia memformat alur tes yang memuat Kompetensi Dasar, sesuai kurikulum KTSP. Misalnya, pada tes mendengar, mereka harus menyiapkan materi (pengumuman, cerita rakyat, berita, dll.) untuk diperdengarkan kepada peserta tes. Pada materi berbicara, mereka meramu alur tes yang mengaruskan siswa menunjukkan kemampuan berbicaranya, semisal pidato, menanggapi persoalan aktual, bercerita, dll. Pada materi membaca, mereka menyiapkan banyak bahan bacaan: cerita, berita media cetak, iklan, poster, dll. Sedangkan saat sesi menulis, mereka menyiapkan psikologis siswa untuk menghasilkan cerita pengalaman, naskah pidato, puisi, atau lainnya.
Ketiga, cukupkah waktu yang ada? Saya yakin, tidak cukup 2 atau 3 hari jika ingin menguji kemampuan berbahasa siswa secara keseluruhan. Selain karena tes meliputi empat kemampuan berbahasa, Kompetensi Dasar yang dipelajari siswa, yang tentunya mesti diujikan pun banyak ragamnya.
Selain pilihan pertama di atas, dapat juga tes UKBI ini berdiri sendiri, terpisah dari Unas. Artinya, siswa SMP dan SMA yang hendak lulus dipersyaratkan mengikuti tes UKBI. Dengan demikian renik-renik yang berhubungan dengan penyiapan alat tes dapat dipangkas, karena penangung jawab kini berpindah pada Pusat Bahasa (Balai Bahasa) untuk membantu menyukseskan program ini.
Namun, adalah suatu kenaifan besar jika siswa diharuskan lulus tes Kemampuan Bahasa Indonesia, sedangkan gurunya tidak. Oleh karena itu urut-urutan yang adil adalah dimulai dari pengajarnya dulu. Dosen, serta guru di jenjang pendidikan tinggi, menengah, dan dasar mesti mengikuti tes ini lebih dulu. Dari sisi hukum, kiranya ini menjadi satu langkah taktis untuk mewujudkan implementasi Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2006 tentang Sistem Pendidikan nasional. Pasal 33, yang menjelaskan tentang bahasa pengantar pembelajaran menyebutkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama. Sedangkan bahasa lain, yaitu bahasa daerah dan asing digunakan secara situasional. Berpedoman pada aturan tersebut, tak ada kendala jika tes UKBI diselenggarakan bagi semua kalangan pendidik. Karena tentu harapan penggunaan bahasa Indonesia yang diharapkan oleh undang-undang tersebut bukan sekadar “asal bahasa Indonesia”, tapi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan tes UKBI, mendukung ketercapaian tujuan itu.
Setelah tahap pertama tadi terlaksana, baru berlanjut pada siswa. Pada tataran perguruan tinggi, UKBI dapat dijadikan sebagai salah satu syarat kelulusan. Mungkin kedudukannya hampir sama dengan TOEFL yang kini mulai menjadi salah satu syarat kelulusan di perguruan tinggi. Baru kemudian dipertimbangkan untuk diterapkan secara struktural di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Demi suatu kebaikan, tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan. Guna mewujudkannya, tinggal merangkai jejaring antara Pusat Bahasa (Balai Bahasa) dan Depdiknas (Dinas Pendidikan).

*)Guru SDBI Al Hikmah Full-day School Surabaya
efendialhikmah@yahoo.co.id


Kamis, 30 April 2009

Cerdas dan Rajin

Kakek meletakkan surat kabar yang ia baca, kemudian menatapku melewati kaca mata plusnya yang tebal.

"Apa itu cerdas?" tanyanya.
"Pandai berpikir." jawabku.
Kakek mengangguk. "Lalu apa itu rajin?"

"Suka bekerja." jawabku lagi.
"Kemarilah." Ia melambaikan tangan agar aku duduk di sisinya. Aku mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. Melihat dari dekat wajah kakek yang diukir guratan usia tua, dibingkai sepasang mata teduh yang menyimpan selaksa kebijaksanaan.
"Nah, sekarang katakan, apa yang kau naiki kemarin waktu menuju ke rumah kakek?"
"Mobil." jawabku.
"Benar, mobil. Apa yang membuatnya bergerak?" tanya kakek
"Mm... Roda." Jawabku.
"Apakah roda hanya dapat melaju lurus ke depan?" tanya kakek lebih lanjut.
Aku menggeleng. "Tidak, roda dapat berbelok-belok. "
"Mengapa demikian?"
"Karena ada kemudinya." Jawabku lagi. Masih tak memahami apa hubungan semua ini dengan pertanyaanku tadi.

Kakek tersenyum.
"'Roda' adalah 'rajin', karena ia selalu bergerak. Itulah kewajibannya, pekerjaannya, tugas yang harus selalu ia lakukan. 'Kemudi' adalah 'cerdas', karena ialah yang berpikir, menentukan kemana roda harus berbelok, ke kanan, atau ke kiri."
"Berarti 'cerdas' lebih hebat, karena tanpa kemudi, roda tak dapat mengerti kemana harus mengarahkan lajunya!" Aku berseru.

"Begitukah? Jika tak ada roda apakah ia akan tetap hebat? Apa jadinya kemudi tanpa roda, apakah mobil tetap dapat melaju?" Kakek bertanya.

"Berarti... 'rajin' lebih hebat. Walaupun tanpa kemudi, ia masih dapat melaju." sahutku ragu-ragu.
"Dan membiarkan mobilnya menabrak segala sesuatu, karena tidak mengikuti alur jalan yang berliku?"
Aku memandang kakek.
"Cucuku... Keduanya tidak akan menjadi hebat, bila berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tanpa mau bergabung. Karena kehebatan itu hanya muncul bila mereka saling mendukung dan bekerja sama. Kemudi yang menentukan arahnya, dan roda yang melajukan mobil sesuai tugasnya."

Kakek menatapku, "Kau tahu, apa yang membuat keduanya bekerja bersama?"

Aku menggeleng.

"Pengemudi mobilnya. Yang mengatur kemudi dan roda agar saling mendukung dan berjalan bersama. Bagaimana laju mobilmu, halus atau kasar, menabrak atau lancar, tergantung siapa yang duduk di tempat itu." jawab Kakek.

"Ia adalah hatimu." Telunjuknya terarah ke dadaku.

"Yang mengatur lajunya langkahmu. Dengannya kau memilih, apakah hanya menjadi cerdas,
atau hanya menjadi rajin, atau memutuskan mendudukkan keduanya bersisian dan saling melengkapi satu sama lain.

Secerdas apapun seseorang, sebesar apapun idenya, tak akan berguna tanpa kerja keras yang mewujudkannya menjadi nyata.
Serajin apapun seseorang, bila itu dilakukan tanpa pemikiran, hasilnya hanya akan menjadi sia-sia."
Kakek menatapku dengan bijak.

"Jadi, menurutmu, mana yang lebih hebat, menjadi cerdas atau menjadi rajin?"

"Menjadi keduanya." Kataku mantap, dengan senyum lebar membalas senyumnya.


Minggu, 26 April 2009

Continue Education 2008 Perlu dilanjutkan ?


Mochamad Ridwan, S.Pd. *)

Program Continue Education adalah wujud nyata Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk membentuk dan mencetak guru SD yang berkualitas dan layak mengajar. Besar manfaat yang dirasakan pengajar SD terutama yang selama ini ilmu yang mereka peroleh serasa mengalami penyegaran kembali. Manfaat yang aplikatif ini mengandung harapan agar pelatihan semacam ini perlu dilanjutkan dalam bentuk yang sama atau bahkan lebih baik dari ini dengan materi cakupan yang lain.


Mulai tanggal 19 Oktober sampai dengan 14 Desember 2008 program Continue Education yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Surabaya bekerjasama dengan Universitas Negeri Surabaya dilaksanakan. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh guru SD negeri dan swasta selingkup wilayah kerja Diknas Kota Surabaya terutama guru kelas jenjang kelas 4-6 SD. Pelatihan ini dilaksanakan bertempat di kampus Universitas Negeri Surabaya dengan sistematika 8 kali tatap muka / pertemuan, setara menempuh mata kuliah 2 SKS. Di akhir pertemuan diadakan ujian akhir dengan soal yang disesuaikan dengan materi pelatihan. Materi yang diberikan adalah Asesmen atau penilaian pembelajaran dan Pembelajaran Inovatif dengan tutor dosen dari Universitas Negeri Surabaya yang kompenten di bidangnya. Adanya program yang digulirkan Diknas ini semula disambut dingin oleh para guru SD dengan alasan program ini terkesan mendadak dan waktu pelaksanaannyapun bertepatan setiap hari Minggu. Tetapi kiranya karena tanggung jawab seorang pengajar untuk terus menambah ilmu dan pengetahuan serta memperoleh sertifikat penghargaan mengikuti pelatihan, maka peserta tetap mengikuti dengan antusias walaupun pelaksanaanya menyita waktu untuk keluarga.

Apa esensi dari Continue Education 2008 ini ?
Melihat dari itikad baik Pemerintah kota Surabaya dalam hal ini Diknas Kota Surabaya untuk memajukan pendidikan terutama memajukan kualitas dan kuantitas guru, mungkin inilah salah satu cara yang tepat dalam mewujudkan impian ini. Apalagi pemerintah pada tahun 2009 berencana menaikkan gaji PNS Guru menjadi minimal 2 juta per bulan, tidak berlebihan kiranya usaha menaikkan grade kualitas guru ini digulirkan. Pemerintah tidak mau kecolongan lagi dengan pengalaman–pengalaman sinis sebelumnya yang terjadi pada para pengajar ini. Guru tidak dipandang menjadi sekedar profesi yang biasa dengan penghasilan dan kemampuan yang seadanya, tetapi profesi dan kemampuan luar biasa sehingga generasi yang dibimbingnya menjadi generasi yang bisa bersaing diantara warga dunia bukan hanya sekedar berdemonstrasi apalagi disertai tindakan anarkis pengerusakan fasilitas. Untuk itu pemerintah Kota Surabaya melalui Diknas Pendidikan berusaha membuat guru-guru selalu dalam kondisi fress graduated. Salah satunya dengan diselenggarakan program continue education ini. Materi yang disampaikan dalam pelatihan inipun adalah materi yang dihubungkan dengan permasalahan sehari-hari yang selalu dihadapi oleh guru. Tujuannya jelas agar guru secara aplikatif mengamalkan ilmu yang didapat agar dunia pendidikan semakin maju berkembang.
Esensi yang kedua adalah berhubungan erat dengan program sertifikasi guru. Dengan semakin banyak guru mengikuti pelatihan-pelatihan pendidikan maka semakin banyak pula point yang dikumpulkan guru tersebut untuk mengikuti sertifikasi. Tetapi adalah naïf kiranya mengikuti pelatihan ini hanya mengharapkan sekedar kertas piagam atau sertifikat tanpa tahu dan ambil manfaat yang dibisa diaplikasikan dalam keseharian mengajar di kelas. Oleh karena itu program ini memang dirancang agar para guru khususnya guru SD bisa berkembang dan bertambah ilmu pengetahuannya.

Harapan Continue Education 2008
Bagi Diknas Kota Surabaya tentu program pelatihan ini adalah perbaikan kualitas dan kuantitas guru segera terwujud sebelum diberlakukannya anggaran 20% pendidikan oleh pemerintah yang insyaAllah rencananya mulai berjalan tahun 2009. Persiapan ini juga menjadi tantangan tersedianya guru-guru yang mampu menunjukkan prestasi di bidang akademik maupun pedagogis. Tidak menutup kemungkinan bahwa di kota Surabaya akan mempunyai beberapa guru bahkan semua yang menjadi pioner dalam percontohan guru-guru berkualitas di daerah lain. Memang benar adanya bahwa dunia pendidikan ujung tombaknya adalah guru. Ditangan guru tersebut mampu mengubah sejarah suatu bangsa. Bagi guru sendiri harapannya dengan adanya program pelatihan ini adalah pendalaman materi keguruan dan teknik-teknik penyampaian materi dalam proses kegiatan pembelajaran. Untuk pelatihan ini kebetulan materinya hanya seputar kemampuan penyampaian materi kepada siswa sebagai peserta didik, serta kemampuan menganalisis umpan balik dalam suatu proses pembelajaran. Tidak mudah bagi pengajar yang rata-rata pengalaman mengajarnya lebih dari 10 tahun tanpa pernah sesekalipun mencarge kemampuannya, bisa mengajar dengan baik. Fakta inilah yang membuktikan jika program pelatihan continue education 2008 ini perlu diikuti semua guru.
Nah apakah setelah selesai 14 Desember 2008 lalu kemudian program continue education ini dicukupkan sampai disini ? ataukah program ini hanya suatu try out bagi agenda Diknas Kota Surabaya?. Kemungkinan besar walaupun program pelatihan ini digelar tanpa sengaja, tetapi sudah menjadi hati bagi sebagian besar pengajar SD di Kota pahlawan ini. Manfaat yang diperoleh lebih besar kiranya sehingga bisa diaplikasikan di sekolah masing-masing, karena itu harapan kami sebagai guru-guru SD kiranya tidak berlebihan di tahun 2009, program pelatihan semacam ini bisa dilakukan lagi dengan materi yang berbeda sesuai dengan permasalahan-permasalahan kami yang kami hadapi di kelas. Begitupun pelayanan pihak Universitas Negeri Surabaya sebagai tempat pelatihan, bagi kami adalah menunjukkan kuantitas suatu pelatihan yang perlu diperhatikan lebih baik lagi. Memang agak terkesan tidak mengenakkan apabila terdapat oknum yang kurang ramah selama pelatihan berlangsung. Semoga semua ini mewakili ungkapan hati seluruh guru-guru SD negeri dan swasta yang mengikuti continue education 2008.

*) Guru SD Al Hikmah Surabaya

Minggu, 19 April 2009

MEMBUDAYAKAN KARYA TULIS UNTUK GURU

Mochamad Ridwan, S.Pd. *)

Begitu banyak tulisan atau buku bertemakan tentang pendidikan yang ditulis oleh seorang pakar pendidikan ataupun orang yang berkompenten dalam dunia pendidikan. Tetapi sangat jarang tulisan maupun buku-buku yang bertemakan pendidikan dikarang atau ditulis oleh seorang guru biasa. Artinya peran serta guru dalam menyumbangkan pikiran maupun ide mereka tidak disalurkan dalam bentuk tulisan.

Masih segar ingatan kita selama masa kuliah, begitu banyak tugas-tugas yang menuntut kita untuk membuat suatu tulisan, misalnya dalam laporan kunjungan, laporan praktek mengajar dan yang paling menentukan dalam kelulusan yakni karya tulis ilmiah atau skripsi. Akan tetapi setelah bertahun-tahun lulus dari bangku kuliah, kita seakan lupa akan proses pembuatan karya tulis seperti tersebut diatas. Apalagi rutinitas dan aktifitas mengajar adalah suatu pekerjaan yang sudah banyak menyita waktu. Dan hasilnya seorang guru terjebak dalam rutinitas belaka tanpa berusaha mengembangkan diri.
Dari para finalis lomba Karya Tulis Guru Tingkat Nasional tahun 2007 lalu yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional, Propinsi Jawa Timur hanya mampu mengirimkan 23 finalis. Jumlah ini tidak sesuai dengan penghargaan Jawa Timur dalam perannya mengentaskan WAJAR 9 tahun oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Sedikitnya finalis LKTG Tingkat Nasional ini meyakinkan argumen saya tentang budaya membaca dan membuat karya tulis atau menulis untuk guru di Jawa Timur rendah sekali. Mengapa bisa begitu ?

Mengapa harus menulis
Pernyataan Prof Rahman menyentak hati nurani kita sebagai guru. Apakah kita sudah berkualitas? Tentu jawaban ini terserah pada masing-masing individu. Tetapi boleh saya mengargumentasikan kondisi pendidikan kita beberapa tahun kedepan. Saat ini dunia pendidikan atau masalah pendidikan adalah masalah yang sekian dari permasalahan negara ini. Anggaran pendidikan dalam APBNpun 20 % dari rencana awal dalam UU Sisdiknas masih tersendat-sendat. Tetapi untuk menyenangkan guru, pemerintah menjadwalkan agenda sertifikasi guru. Sertifikasi ini tujuannya adalah menjadikan guru Indonesia yang terampil, kompenten, dan profesional. Untuk menuju kesana dibutuhkan syarat-syarat yang ketat dari calon penerima sertifikasi. Satu diantaranya adalah pengembangan diri termasuk pernah membuat karya tulis, buku, artikel, ataupun laporan penelitian. Diharapkan dengan pengembangan diri seorang guru ini pengetahuan keilmuan yang terdapat di dalam diri seorang guru bisa di merger dengan peserta didik.
Menulis dan membuat karya tulis pada dasarnya adalah berawal dari membaca. Seorang guru yang merasa sudah pintar dan tidak mau membaca memperbarui ilmunya, maka guru tersebut ketinggalan 1000 langkah dari muridnya. Ibarat kata murid sudah sampai Amerika Serikat dengan naik pesawat super cepat, sedangkan guru baru saja meninggalkan halaman rumahnya menuju Amerika Serikat dengan naik Sepeda Onthel. Dengan membaca, maka guru akan menemukan sesuatu yang baru pada dirinya. Sesuatu ini diharapkan mampu membuat dirinya lebih percaya diri, terutama terhadap muridnya. Membaca pula akan menemukan permasalahan–permasalahan baru sehingga perlu dengan cepat menyelesaikannya. Atau sebaliknya bagi guru yang menemukan permasalahan-permasalahan akan cepat terselesaikan dengan pengetahuan yang dimilikinya dari membaca. Nah, bagi seorang guru yang sering dan gemar membaca akan selalu merasa tidak ketinggalan dengan ilmu yang dimiliki muridnya. Jangan dikira murid kita sekarang adalah benda hidup yang mati atau dalam bahasa kasar adalah murid-murid itu identik dengan bodoh belum tahu apa-apa. Di zaman yang serba mutakhir ini, semua akses bisa dimengerti dan dipahami murid-murid kita, walaupun mereka di jenjang SD.
Tetapi apakah kita harus mewujudkan anggaran 20 % dulu dari pemerintah, kemudian baru menciptakan suatu yang menggemparkan ? Pepatah yang tidak asing lagi ditelinga kita bisa adalah karena biasa adalah sangat cocok untuk diterapkan dan digunakan kita sebagai guru. Karena pembiasaan diri maka kita akan bisa mencapai cita-cita. Membaca adalah kunci sukses dan kemudian menuliskan kembali hasil membaca adalah kunci pengembangan diri seorang guru. Membiasakan menulis juga adalah salah satu bentuk aktualisasi ide-ide cemerlang dari seorang guru yang bermanfaat bagi dirinya dan sudah barang tentu bermanfaat bagi murid-muridnya. Sedikitnya manfaat yang diperoleh guru membuat karya tulis adalah (1) meningkatkan kompetensi pendidik dalam mengajar dan mendidik; (2) mendayagunakan dan memanfaatkan hasil kerja kreatif pendidik semaksimal mungkin; (3) meningkatkan produktifitas publikasi ilmiah pendidik; (4) point untuk sertifikasi atau kenaikan pangkat/golongan. Kalau kita sudah bisa mengambil manfaat dari pembuatan karya tulis maupun tulisan, diharapkan apa yang dikatakan Prof. Arif Rahman di atas akan terwujud. Pendidikan bangsa Indonesia akan baik kalau guru-guru Indonesia berkualitas.

Masalah apa yang perlu ditulis ?
Sangatlah mudah mencari masalah untuk ditulis sebagai karya tulis kita. Semisal di sekitar aktifitas kita sehari hari yakni masalah-masalah selama mengajar di kelas. Kita bisa menulis tentang penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang didasarkan pada identifikasi masalah nyata dan faktor-faktor penyebab masalah aktual yang dihadapi pendidik dalam pembelajarannya. Jadi penelitian ini didasarkan dari permasalahan-permasalahan riil yang sehari-hari dihadapi oleh guru. Menurut Prof. Dr. Kisyani Laksono, M.Hum. kajian dalam penelitian ini meliputi masalah pembelajaran, desain dan strategi pembelajaran, alat bantu, media dan sumber belajar, sistem asesmen proses dan hasil pembelajaran, dan pengembangan pribadi peserta didik dan pendidik.
Penelitian Tindakan Kelas sendiri jarang sekali dilakukan oleh pendidik, padahal pendidik atau guru adalah orang yang terjun langsung setiap hari menangani siswa. Penelitian Tindakan Kelas bertujuan meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pembelajaran; membantu pendidik mengatasi masalah pembelajaran secara terncana dan berkelanjutan; meningkatkan kerja sama profesional diantara pendidik disemua jenjang dan jalur pendidikan; dan menumbuhkan budaya akademik di kalangan pendidik, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Dengan tujuan di atas kita bisa meraba-raba apa yang akan ditulis nantinya. Misalnya mengambil judul tentang peningkatan kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Al Hikmah Surabaya dengan pendekatan komunikatif.
Masalah lain yang bisa dijadikan bahan untuk membuat karya tulis atau menulis adalah masalah-masalah atau peristiwa yang terjadi disekitar kita. Guru dituntut untuk mengetahui kondisi sekolah beserta isinya, juga dituntut mengetahui kondisi disekitarnya. Dalam hal ini guru diharapkan memiliki sikap proaktif terhadap apa yang terjadi dilingkungannya. Kajiannya bukan hanya masalah pendidikan tetapi luas sekali bisa mencakup masalah sosial, budaya, ekonomi maupun politik. Sebagai contoh menulis masalah budaya, lebih spesifik tentang mengangkat kesenian Kuda Lumping. Kita bisa menulis sisi sejarahnya, pemainnya, ataupun bentuk permainnya. Hasil tulisan ini bisa dibuat sebagai media pembelajaran, ataupun dijadikan sebuah artikel yang mengangkat masalah budaya. Dampaknya tentu luar bisa bagi semua kalangan dengan hasil tulisan ini. Gampang kan?

Kapan harus menulis ?
Pemasalahan berikutnya adalah kapan kita bisa menuangkan ide-ide dalam bentuk karya tulis atau tulisan ? Adalah pada dasarnya dari diri kita sendiri. Guru yang mau maju pasti bisa walaupun setiap hari banyak sekali rutinitas yang harus dikerjakan. Kalau berbicara masalah sibuk tentu semua guru di Indonesia pasti sibuk. Tetapi diantara kesibukan kita pasti ada waktu luang atau kosong yang bisa kita manfaatkan. Sebagai contoh dalam melakukan penelitian tindakan kelas, kita melakukan penelitiannya di dalam kelas, disaat mengajar. Di saat mengajar itu kita memantau kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi siswa, metode apa yang bisa digunakan dalam menyampaikan materi, atau media apa yang seharusnya digunakan. Dengan demikian waktu lain yang semestinya untuk keluarga, tidak tersita banyak dalam membuat suatu karya tulis. Semoga kita semua bisa menjadi guru yang profesional dan berprestasi.


*) Guru SDBI AL Hikmah Surabaya

Kamis, 16 April 2009

SEBUAH BARANG LANGKA YANG BERNAMA KEJUJURAN

oleh : Siti Muniroh *)

Shock, marah, kecewa, malu, sedih dan segala perasaan bercampur aduk menjadi satu. Itu yang saya dan teman-teman rasakan saat itu, saat anak-anak kami dengan segala kejujurannya mengaku bahwa selama ini mereka kerapkali berbuat kecurangan dalam ulangan.

Bahkan muka salah satu teman saya yang biasanya tampak tenang dan sangat sabar, saat itu tampak merah padam. Bagaimana tidak? Saya tahu betapa bangganya beliau terhadap anak-anak didiknya, anak-anak yang punya kemampuan sangat baik, bahkan bisa dikatakan lebih dari teman-temen mereka di kelas lainnya. Mereka yang selama ini menjadi tonggak harapan kami. Tetapi, kenyataan pahit yang harus kami hadapi saat itu, justru mereka yang paling banyak melakukan kecurangan, mereka yang paling lihai bagaimana cara melakukan kecurangan dalam ulangan tanpa harus ketahuan.

Tetapi seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sepandai-pandai kuda berlari, suatu saat pasti akan terjatuh juga. Serapat-rapatnya bangkai busuk disembunyikan pasti akan tercium juga baunya. Mungkin itu yang sedang terjadi saat itu, kelihaian mereka berbuat kecurangan dalam ulangan terbongkar sudah.

“NYONTEK”, mungkin kata ini tidak asing bagi anda, dan bisa jadi anda juga termasuk salah satu orang yang pernah melakukannya. Bahkan mungkin bagi sebagian orang karena saking terbiasanya, perbuatan satu ini menjadi sangat biasa dan seolah-olah menjadi halal dan sah-sah saja untuk dilakukan. Apalagi saat musim ujian seperti saat ini, nyontek justru menjadi trend dan tradisi. Lebih tragisnya lagi kalau inisiatif untuk nyontek tidak hanya datang dari siswa itu sendiri, tapi atas inisiatif gurunya. Na’udzubillahi min dzalik.

“PENCURI”, itu kata pertama yang disebutkan teman saya di hadapan anak-anak didik kami yang tertunduk malu dan takut seperti maling ayam yang tertangkap basah. Di sebuah ruangan yang cukup besar itu mereka berkumpul, duduk diam, hening tak ada satupun yang berani berbicara. Padahal biasanya ruangan itu tidak pernah sesunyi itu. Mereka seperti terdakwa yang sedang diadili dan siap menerima vonis apapun yang akan dijatuhkan kepada mereka.

Ya, Pencuri adalah sebutan bagi orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk dimilikinya. Masih mending kalau yang diambil adalah sebuah barang, ayam misalnya, ketika sadar dan bertaubat pencuri itu bisa mengembalikan kepada pemiliknya, banyak memohon ampunan kepada Allah selesai masalah. Tetapi kalau yang dicuri berupa jawaban, nilai, prestasi, hak orang lain, bagaimana cara menggalikannya? Mereka ditanya bagaimana mengembalikan hak teman-teman mereka yang tergeser ke bawah karena mereka jujur, padahal mestinya mereka yang semestinya ada di kelas atas, kelas yang mereka tempati sekarang dengan hasil kecurangan. Bagaimana pula dengan para orang tua yang selama ini mereka bohongi mentah-mentah, apa mereka akan meminta maaf kepada mereka satu-persatu?

Mereka hanya terdiam, semakin menunduk, semakin merasa bersalah. Apalagi ketika diingatkan bagaimana orang tua mereka kelak mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah? Bagaimana kami para guru mereka kelak menjawab jika Allah merpertanyakannya kelak di hari kiamat? Bukankah mereka tangung jawab orang tua, tanggung jawab kami para pendidik yang menjadi orang tua kedua mereka untuk mendidik mereka dengan baik? Mereka semakin terdiam, bahkan beberapa dari mereka tampak meneteskan air mata, menangis lirih. Alhamdulillah…mudah-mudahan itu benar-benar air mata penyesalan, air mata taubat yang akan mengikis habis dosa-dosa mereka. Dengan lantunan alQur’an yang mengalir dari bibir mereka, mereka berurai airmata.
Anak-anakku, mudah-mudahan setelah ini kalian benar-benar menjadi hamba-hamba Allah yang jujur. Jangan pernah kalian mengotori hidup kalian dengan kecurangan, jangan kalian campurkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan biarkan nila setitik merusak susu sebelanga. Berapapun yang halal akan menjadi haram jika sedikit saja kalian campurkan di dalamnya sesuatu yang haram. Orang yang baik bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang mau meyadari kesalahnnya dan memperbaikinya. Dan mudah-mudahan kalian semua adalah orang-orang yang seperti itu, yang mau menyadari kesalahan dan memperbaikinya.

Bagi sebagian orang mungkin yang kami lakukan berlebihan, terlebih bagi anda yang menganggap nyontek adalah hal biasa, bukan sesuatu yang besar. Tetapi bagi kami, nyontek bukan hal yang kecil, tetapi sesuatu yang sangat besar dan patut untuk dipermasalahkan. Membiarkan anak-anak kami menyontek saat ulangan atau ujian sama halnya membiarkan mereka menjadi pencuri, menjadi maling. Apa jadinya mereka kelak jika sejak kecil mereka sudah terbiasa berbuat curang, terbiasa mencuri, terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya, terbiasa mengambil hak orang lain?
Mungkin para pejabat yang saat ini menjadi koruptor bukan sepenuhnya salah mereka, bisa jadi kita pendidik ikut andil di dalamnya. Mungkin ketika mereka masih kecil, ketika mereka masih di bangku sekolah, kita para pendidik lupa mengingatkan mereka pentingnya sebuah kejujuran. Kita biarkan saja mereka ketika tahu mereka berbuat curang. Bahkan terkadang untuk sebuah kata yang bernama “LULUS”, justru kita yang mengajarkan mereka untuk berbuat curang. Astaghfirullah…mudah-mudahan Engkau ampuni kesalahan kami ya Allah.

Yang kami lakukan hari itu hanyalah sedikit dari usaha kami untuk mengingatkan anak-anak kami akan pentingnya sebuah kejujuran. Kami tidak ingin kejujuran menjadi barang langka. Kami hanya ingin jika kelak menjadi apapun mereka, mereka menjadi profeional-profesional yang jujur. Kami tidak ingin mereka menjadi orang-orang yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendaptkan keinginan mereka. Kami ingin mereka menjadi putera-putera bangsa yang kelak akan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Kami tidak ingin anak-anak kami menjadi para koruptor yang akan menghancurkan negeri sendiri. Naudzubillah…

Akhir kata, saya teringat sebuah ayat “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairay yarah, waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah.”

“Maka barangsiapa berbuat kebaikan sebarat zarrah (biji sawi/atom)) pun, niscaya kelak dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat zarrah (biji sawi/atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Wallahu a’lam bishshawaab.

*) Guru SDBI Al Hikmah

Selasa, 14 April 2009

Cenderung menirukan apa yang dia lihat dan dengar

Alex Murgito *)


Menurut pendapat para ahli pendidikan dan psikologi, anak cenderung menirukan apa yang dia lihat dan dengar. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lihat dan dia dengar.

Sebagai ilustrasi sederhana, anak yang terlahir dalam kondisi tuna rungu, tidak akan
bisa berbicara (berucap) sesuai dengan bahasa di lingkungannya. HAl ini karena dia tidak pernah merekam bahasa yang seharusnya digunakan dan didengarkan.
Seorang anak yang terlahir normal, jika tidak mengalami gangguan pada alat ucap, bisa berbicara dan berkomunikasi selayaknya lingkungan tempat dia tumbuh. Hal ini karena telinganya bisa merekam apa yang ada di sekitarnya. Hal itu juga terjadi pada penglihatan.
Peniruan itu, jika berlangsung terus menerus akan terekam pada alam bawah sadarnya dan terbawa sampai dia dewasa. kelak, sesuatu yang terekam di alam bawah sadar itu yang akan mempengaruhinya dalam menentukan keputusan yang harus diambil.
Alhamdulillah jika yang didengar dan dilihat adalah sesuatu yang positif, seperti bacaan Alquran, kata-kata yang memotivasi, cara bekerja keras, dan beribadah, dan lain-lain, maka, alam bawah sadarnya akan merekam sesuatu yang positif. akhirnya akan membentuk sikap positif. Sebaliknya, jika yang dia lihat dan dengar adalah hal negatif, seperti kata-kata menghujat, ekspresi marah, kata-kata kotor, dan lain-lain, tentu yang terekam pada alam bawah sadarnya adalah hal yang demikian.
MAna yang lebih bermanfaat untuk masa kehidupan ketika dia dewasa? Tentu rekaman yang positif karena itu akan membentuk sikap dan pola pikir positif.
Dengan kondisi kehidupan bangsa yang demikian (banyak hal negatif di lingkungan, seperti kata-kata kotor, mental tidak bisa menerima kekalahan, bohong, membuang sampah sembarangan, pengecut, dan sebagainya), Apakah hal positif bisa direkam?
Bisa. caranya adalah: pertama, buat kondisi positif pada lingkungan anak, mulai dari sekolah hingga rumah dan tempat bermain, seperti disiplin waktu, menjaga kebersihan, selalu melakukan yang positif, tidak berbicara kotor, dan sebagainya.
kedua, jauhkan perilaku negatif dari diri anak. salah satu caranya adalah dengan
meminimalkan hubungan si anak dngan akses televisi, media massa, dan berbagai sumber hal negatiuf.
Untuk mendapatkan kedua hal itu, sekolah dengan sistem fullday school sangat membantu.
Mengapa? alasannya, sekolah tersebut mampu menjaga anak dari pengaruh negatif karena hidup anak pada saat sadar dihabiskan dengan sistem yang positif dan mendukung perilaku positif. Sehingga hal negatif yang membahaykan tidak terekam oleh alam bawah sadar anak.

*) Guru SDBI Al Hikmah

Minggu, 12 April 2009

Mewujudkan RSDBI Di Daerah Sebagai Langkah Besar Revolusi Pendidikan

M. Ridwan *)

Keberadaan Rintisan Sekolah Dasar Bertaraf Internasional atau disingkat RSDBI di Propinsi Jawa Timur masih dapat dihitung dengan lima jari. Padahal tahun 2025 sesuai dengan visi sistem pendidikan nasional yakni menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif tinggal hitungan waktu untuk kita lalui bersama. Usaha mewujudkan RSDBI di daerah-daerah adalah sebagai sarana belajarnya generasi-generasi yang memiliki bakat alam luar biasa yang kurang dapat perhatian serius dari semua pihak untuk disiapkan menghadapi dunia depan. Hal ini akan berdampak terjadinya revolusi dunia pendidikan Indonesia apabila mereka berhasil exelent menempuh belajar dan memperoleh pengalaman yang layak.

RSBI kemudian menjadi SBI untuk jenjang SMP atau SMA hampir di setiap daerah kabupaten/kota apalagi di kota besar diadakan. Tujuannya adalah untuk menampung siswa-siswi yang memiliki kemampuan kecerdasan lebih dalam belajarnya. Sehingga di suatu ketika bangsa ini membutuhkan akan segera disiapkan untuk digunakan membangun bangsa. Tetapi mengapa yang semarak hanyalah jenjang SMP dan SMA yang bergelar SBI ? Padahal di jenjang SD itu ada dan memang harus diadakan karena jenjang sekolah ini merupakan jenjang dasar untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Menurut DR. Drs. M. Hoesnan, M.Pd. kepala seksi pembinaan TK-SD Dirjen Dasmen Dinas Pendidikan Nasional Jakarta, saat ini pemerintah memiliki dana yang tersedia untuk 1700an SD yang ingin melebur dirinya menjadi RSDBI. Pada tahun 2008-2009 ini masih sedikit sekolah dasar di seluruh Indonesia yang memperoleh dana tersebut.
Kita tengok sejenak apa syarat dan ketentuan untuk menjadi sekolah berlabel rintisan SDBI selanjutnya menjadi SDBI. SDBI adalah sekolah jenjang SD yang secara operasional harus berstandart internasional, artinya sekolah ini harus memiliki sarana dan prasarana serta sumber daya pengajar yang berkualitas. Sarana prasarana meliputi sekolah harus memiliki laboratorium bahasa, laboratorium computer. Kelas disiapkan memiliki kelengkapan ICT semisal seperangkat computer, televisi, player VCD/DVD, LCD, sebagai penunjang KBM. Luas wilayah lingkungan sekolah termasuk di dalamnya gedung, lapangan olah raga, tempat parkir, harus lebih dari 1 ha. Belum lagi SDM pengajar harus disiapkan menguasai bahasa Inggris pasif maupun aktif untuk percakapan dalam KBM sebagai bahasa pengantar pembelajaran, serta siap mengembangkan diri. Sarana penunjang lainnyapun harus sedemikian pula dipersiapkan berstandart internasional seperti perpustakaan yang memadai dan layak. Koleksi buku – buku harus melebihi angka 1000 judul buku maupun jurnal. Melihat dari persyaratan dan ketentuan di atas tentu hanya sekolah-sekolah SD negeri/swasta yang besar dan kaya saja yang mampu menyiapkan persyaratan tersebut Tentu SD ini berada di kota-kota besar seperti Surabaya. Meskipun pemerintah tidak memberikan dana untuk persiapan menuju RSDBI, tetapi mereka berkecukupan dan mampu membiayai sendiri. Nah apakah SD-SD di daerah memenuhi kriteria tersebut untuk memenuhi label RSDBI ?


Belajar Pengalaman Lintang
Sosok Lintang dalam film Laskar Pelangi adalah sosok siswa yang memiliki kemampuan kecerdasan lebih. Dia belajar di sekolah SD kecil di daerah pelosok tanpa fasilitas yang sangat kurang memadai. Dia lebih unggul dan brilian dibandingkan teman-teman sekelasnya. Tetapi pada akhirnya dia menerima nasib yang semestinya bukan harapan dan impiannya. Ini adalah kejadian nyata yang sering kita jumpai di daerah-daerah. Banyak anak-anak yang dilahirkan dengan kemampuan dan bakat dari alam yang melebihi kecerdasan anak pada umumnya menerima pendidikan kurang layak. Mereka bersekolah di SD negeri/swasta kecil dan diajar dan dididik oleh guru yang berjumlah sedikit dengan kemampuan biasa. Sarana prasarana untuk menunjang proses belajar sama sekali tidak maksimal dan terkesan seadanya. Jangankan computer, koleksi buku perpustakaannya hanya menunjukkan angka 50-100 judul buku dan sudah dikatakan baik. Mereka dihadapkan pada kondisi yang menyedihkan dalam haknya memperoleh pendidikan yang layak tidak terpenuhi. Akhir cerita nasib mereka menjadi orang-orang yang biasa tanpa memiliki kemampuan kreatif untuk mengisi pembangunan bangsa ini, lebih tragis lagi menjadi sampah masyarakat. Inilah kondisi sebagian atau sepenuhnya kendala yang dihadapi SD-SD standart daerah dalam memenuhi kebutuhan siswanya.
Membangun sarana dan prasarana pendidikan tidaklah mudah bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan yang terbaik untuk masyarakat. Apalagi usaha untuk memberi pelatihan bagi guru-guru agar mereka menjadi SDM yang unggul membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit. Akibatnya tidaklah mungkin mendirikan RSDBI di daerah/kota kecil walaupun hanya satu sekolah saja. Tetapi apakah semua pihak akan berdiam diri sambil menunggu datangnya keajaiban untuk merubah semua ini?

Mencari Team Work
Mewujudkan RSDBI sebenarnya sangat mudah, walaupun hanya satu sekolah yang dijadikan percontohan RSDBI di tiap-tiap kabupaten/kota di Jawa Timur. Solusi utama adalah perlu kerjasama tim yang solid dan kuat untuk mengadakan dan mewujudkan RSDBI antara Pemerintah kabupaten/kota dengan pihak yang berkompeten dalam mengurusi pendidikan dengan syarat mereka semua memiliki tujuan yang sama yakni ingin memajukan pendidikan di daerahnya. Tidak perlu menunggu anggaran dari pemerintah pusat, semua harus diselesaikan pemerintah daerah dan perlu sedikit kreatifitas untuk mengatasi persoalan ini. Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan kabupaten/kota terlebih dahulu membuat anggaran APBD untuk pendidikan maksimal 20% ataupun disesuaikan dengan kondisi daerah. Hal ini sesuai amanat undang-undang Sisdiknas serta keputusan pemerintah pusat menaikkan dana anggaran pendidikan sebesar 20% mulai tahun 2009. Kemudian Pemerintah kabupaten/kota bekerjasama dengan lembaga-lembaga pelatihan untuk melatih kemampuan guru pengajar di jenjang SD. Pelatihan ini harus melibatkan semua komponen termasuk guru SD yang berbakat dan mau berkembang yang menjadi obyek pelatihan bukan diselewengkan ke pihak lain demi kepentingan individu. Pemerintah daerah juga harus pintar melobi pengusaha swasta daerah untuk menjalin kerjasama membangun sarana prasarana sekolah yang akan dijadikan percontohan RSDBI. Katakanlah menjadikan SD yang sudah ada dahulu untuk disetarakan SSN (Sekolah Standart Nasional) bila sulit untuk membangun dan mendirikan SD baru. Selanjutnya, mulai mencari bibit-bibit unggul yang akan dididik dan ditempa menjadi siswa-siswa yang mampu mengubah potensi daerah masing-masing. Tetapi tidak hanya sekedar mendirikan RSDBI yang memiliki tujuan sesaat dan sama dengan SD-SD standart biasa. Visi dan Misi harus jelas dan dilaksanakan agar ada bedanya RSDBI dengan SD standart biasa. Subhanallah, bila ini terjadi dan terwujud kondisi pemerintahan, perekonomian, dan pembangunan di tiap-tiap kabupaten/kota di Jawa Timur akan mengalami revolusi besar-besaran dalam arti positif kelak di suatu masa. Negara ini akan bangkit kembali dari keterpurukan yang terlalu lama. Semoga langkah kita dengan niat yang suci diridhoiNya.

*) Guru IPS SDBI Al Hikmah

Selasa, 24 Maret 2009

Olimpiade Sastra, Sebuah Langkah Maju

[ JP Minggu, 22 Maret 2009 ]
Oleh : Dwi Indriyanti, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SD Al Hikmah, Surabaya

Rencana Depdiknas menggelar olimpiade sastra untuk tingkat SD pada 2009 merupakan terobosan di dunia pendidikan. Selama ini, olimpiade identik dengan dua bidang studi, yakni matematika dan sains. Penyelenggaraan dua olimpiade tersebut bahkan sudah menjadi agenda tahunan. Karena itu, rencana tersebut dapat dikatakan langkah maju.

Sudah jamak dalam pandangan orang awam, bahkan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, bahwa kepintaran seseorang dilihat dari perolehan nilai matematika atau sains. Anak yang mendapatkan nilai tinggi pada mata ajar tersebut mendapat label pandai atau cerdas. Sedangkan, mereka yang memiliki kelebihan di bidang humaniora (sosial), bahasa, dan sastra tetap dianggap memiliki "kekurangan."

Sering, anak atau guru yang mumpuni di dua bidang itu (matematika/sains) dielu-elukan saat mereka memenangi kejuaraan. Sekolah juga rela mengeluarkan biaya besar untuk mencetak jawara-jawara dua mata pelajaran tersebut. Sebaliknya, siswa yang menang lomba puisi diperlakukan beda, dianggap "penggembira", bahkan tak jarang dipandang sebelah mata.

Ada beberapa hal yang melatari terpinggirkannya pengajaran sastra. Pertama, persentase pengajaran sastra pada kurikulum kita kecil sekali dibandingkan mata pelajaran lain. Pengajaran sastra di SD boleh dibilang hanya sebagai pelengkap. Di kelas 4, misalnya, pengajaran sastra hanya ada di semester 2, itu pun dengan porsi kecil. Jumlah jam pengajaran bahasa dan sastra juga lebih sedikit dibandingkan mata pelajaran lain.

Kedua, kebanyakan pengajar hanya mengajarkan sastra sebatas teori dan hafalan, tidak menekankan pada apresiasi. Boleh jadi, itu disebabkan guru kurang memiliki kemampuan dan apresiasi di bidang sastra. Karena pengajarannya kurang menarik, siswa jadi tak tertarik.

Ketiga, kurangnya bahan bacaan sastra. Bagi sekolah yang memiliki perpustakaan memadai, ketersediaan buku bacaan sangat mencukupi. Sehingga, siswa dapat membaca beragam buku sastra. Namun, sebagian besar sekolah belum memiliki perpustakaan yang baik. Itu diperparah rendahnya minat baca.

Keempat, ada pandangan bahwa mempelajari satra hanya buang-buang waktu, tidak ada gunanya. Jurusan IPA juga dipandang jauh lebih baik daripada jurusan IPS dan bahasa. Karena itu, pengembangan di bidang sastra dianggap tidak perlu. Lebih ironis lagi, pembinaan guru matematika dan IPA lebih diutamakan daripada guru bahasa dan sastra.

Melihat marginalisasi sastra tersebut, rasanya perlu kita renungkan beberapa hal berikut. Pertama, sesungguhnya pengajaran sastra memiliki peran besar dalam penanaman nilai kehidupan dan kemanusian pada siswa. Simak saja anekdot berikut. Mengapa orang Jepang bisa menjadi negara maju, sementara kita tidak? Yang membedakan adalah saat kita kecil dulu, yang sering diperdengarkan kepada anak adalah cerita Kancil Mencuri Ketimun. Yang didengar anak Jepang, di sisi lain, adalah cerita Katak Hendak Menjadi Raja. Karena itu, bangsa kita punya sederet koruptor.

Bisa jadi, itu bukan sekadar anekdot. Pengajaran sastra yang memotivasi memang merupakan investasi masa depan bagi moral bangsa, demikian pula sebaliknya. Orang bijak berkata, jika seseorang gemar membaca karya sastra, dia akan jadi orang yang dapat menghargai orang lain. Karena itu, dunia akan menjadi damai, tak ada pertengkaran, tak ada perang.

Kedua, penghargaan terhadap karya sastra merupakan pengakuan bahwa sastra setara dengan ilmu lain. Di negara maju, penghargaan terhadap karya sastra dan sastrawan jauh lebih baik. Bahkan, saat pelantikan salah satu presiden Amerika Serikat, pernah ditampilkan pembacaan puisi. Karena itu, buku sastra berkembang pesat. J.K. Rowling, penulis Harry Potter, juga menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.

Di Indonesia, pengakuan terhadap karya sastra mulai menunjukkan peningkatan. Salah satunya adalah fenomena Laskar Pelangi. Penulis novel itu menerima royalti tak kurang dari Rp 4,5 miliar (Edi S. Mulyanta, 24/11).

Karena itu, langkah pemerintah mengadakan olimpiade sastra tingkat SD sebagai penghargaan terhadap siswa yang mendalami satra perlu didukung. Sebagai bagian dari elemen pendidikan, kita perlu mengupayakan agar wajah pendidikan tak lagi berpihak pada mata ajar tertentu. Sehingga, kita bisa menerima talenta siswa sebagai kelebihan yang sama. (soe)


Selasa, 02 Desember 2008

Dibutuhkan, Pembelajaran Bahasa yang Kreatif dan Rekreatif!

Mohammad Efendi
Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Banyak orang beranggapan, mengajar bahasa Indonesia itu mudah. Proses belajarnya lancar, semulus perjalanan di jalan tol. Apalagi kondisi sekarang ini begitu mendukung penggunaan bahasa Indonesia. Di rumah, di sekolah, di jalan, sudah lazim bahasa Indonesia digunakan. Begitu derasnya penggunaan bahasa nasional ini, hingga Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Pak Sahudi perlu memberikan edaran kepada sekolah tentang dua hari berbahasa Jawa di sekolah.

Sebuah upaya internal pendidikan agar bahasa daerah tak makin tergerus. Di lain pihak, dominannya bahasa Indonesia pada ranah-ranah berbahasa tadi, diakui memberi dampak positif bagi pembelajaran bahasa Indonesia: siswa terbiasa mempraktikkan bahasa Indonesia.
Selain hal tersebut, dapat diikutkan pula televisi sebagai alat penambah perbendaharaan kosakata siswa. Tak ada yang mengatakan bahwa siswa belajar bahasa Indonesia dari televisi, padahal sesunggguhnya, siswa dapat mendapat jimbunan kosakata dari kotak pandora ini. Saya teringat keponakan saya bertanya pada saya, “Om, terluka itu apa?” Bocah mungil yang duduk di TK nyeletuk bertanya saat tokoh cerita sinetron berujar, “Apakah mereka terluka?” Rupanya ia tak paham maksud kata berkata dasar “luka” ini.
Namun, keberpihakan suasana saat ini (untuk menggunakan bahasa Indonesia), boleh jadi tak berimbas sama sekali di bangku sekolah jika guru tak jeli dalam memola pembelajaran. Hal tersebut akan mubadzir, dan lenyap begitu saja jika guru masih tetap menomorsatukan membaca dan menulis sebagai isi pembelajaran bahasa. Padahal ada aspek lain yang juga perlu diasah lewat pembelajaran bahasa, yaitu keterampilan mendengar dan berbicara. Sebagai sebuah keterampilan dasar berbahasa, keempat keterampilan ini harus mendapatkan porsi asah (belajar) yang sama. Salah besar jika guru bahasa hanya mengajak anak didiknya membaca buku paket lalu mengerjakan soal saja. Apalagi sekarang tak terhitung banyaknya buku paket maupun buku soal latihan. Atau lebih fokus pada pengajaran mengarang dan tanda baca saja, karena itu yang keluar di ujian. Itu tidak patut dilakukan. Karena semangat pembelajaran bahasa adalah pengasahan empat keterampilan berbahasa secara berimbang: mendengar, berbicara, membaca, menulis.
Sebenarnya, empat keterampilan berbahasa tadi telah terwadahi dalam kurikulum. Namun, karena pola pembelajaran lebih tergantung pada “sang sopir”, maka semuanya tergantung pada kemauan guru dalam melaksanakan kurikulum. Jika sang guru mau melaksankannya, maka keterampilan siswa akan terasah secara berimbang, namun jika sebaliknya, keterampilan berbahasa akan menjadi “jomplang”.
Pada jenjang Sekolah Dasar, alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran bahasa Indonesia cukup ideal. Antara delapan sampai sepuluh jam pelajaran per minggunya. Ketersediaan waktu yang cukup luas ini sebenarnya merupakan tantangan bagi guru untuk memola pembelajaran yang kreatif dan rekreatif, dengan tetap berdasar pada kurikulum. Misalnya materi berwawancara dengan nara sumber. Mungkin cukup “memadahi” hanya dengan membaca buku paket, lalu menyimpulkan dan menjawab pertanyaan. Namun, jauh baik jika guru mengajak siswa untuk melajukan wawancara sederhana sungguhan. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu mereka diminta untuk menentukan orang yang akan mereka wawancarai. Sebelum terjun ke lapangan, mereka menyiapkan alat yang diperlukan (tape recorder, notebook, pulpen) serta menyusun daftar partanyaan wawancara. Baru kemudian tiap kelompok membuat laporan dan mmpresentasikannya di kelas. Saat presentasi, kelompok yang lain dapat mengajukan pertanyaan. Pengajaran wawancara ini juga dapat didesain dengan menghadirkan nara sumber di kelas. Hal tersebut akan memberikan suasana berbeda dalam pengajaran bahasa.
Pembelajaran drama juga dapat diskenario dengan menarik. Setelah diajak berdiskusi tentang penulisan drama, anak-anak diminta untuk menyusun naskah drama sendiri dan mementaskannya. Tentunya mereka lebih dulu dikelompokkan dalam kelompok drama. Agar anak-anak mengenal cerita rakyat, guru mengundi beberapa judul cerita rakyat. Dengan demikian, judul cerita rakyat yang dibawakan tiap kelompok berbeda, jadi lebih bervariasi. Kelompok satu memmbuat drama “Sangkuriang”, yang lainnya mungkin “Legenda Danau Toba” atau “Batu Belah”. Biasanya, kegiatan ini tak akan selesai dalam satu pertemuan. Mungkin empat sampai lima pertemuan. Karena rangkaiannya cukup panjang. Mulai dari pembuatan kelompok, penentuan judul, dan penyusunan naskah drama. Dilanjutkan dengan latihan pentas drama dan pentas sungguhan.
Dalam pelaksanaanya pendampingan guru dituntut optimal. Karena ini berkaitan dengan sebuah proses kreatif yang bersifat individual. Selain itu, guru juga dituntut untuk menerapkan standar evaluasi yang sesuai. Dalam pembelajaran drama dengan skenario seperti ini, nilai dapat diambil dari (1) naskah drama; keterampilan menulis dan (2) pentas drama; mendengar, berbicara, membaca. Dengan demikian, semua aspek keterampilan berbahasa tertampung dalam pembelajaran dan evaluasi. Dan yang pasti, pembelajaran menjdi menarik dan tak membosankan.
Dengan mendesain pengajaran yang kreatif dan rekreatif siswa tak akan jenuh. Lain halnya jika siswa hanya dikungkung di kelas saja. Materinya pun hanya melulu yang ada di buku paket. Anak akan cepat bosan saat belajar. Dan kunci utama untuk mengubah itu semua adalah “sang guru”. Beliaulah yang dapat mengubah suasana bosan menjadi menyenangkan. Keadaan biasa menjadi menggembirakan. Dan tak ada salahnya sesekali guru mengeluarkan ice breaker agar siswa menjadi fresh kembali. Ice breaker tersebut dapat berupa permainan huruf, kata, game sederhana, atau cerita. Permainan huruf misalnya, menyusun kata sebanyak-banyaknya dari beberapa huruf yang ditulis guru dlam waktu satu menit. Game ini dapat diulang dua sampai tiga kali. Berdasar pengalaman, permainan ini tak butuh waktu lebih dari 5 menit. Siswa akan tampak bergairah kembali seusai permainan ini dan siap melanjutkan pelajaran. Ibarat sebuah perjalanan, ice breaker menjadi tempat beristirahat bagi otak siswa. Untuk selanjutnya berjalan lagi dengan kondisi yang bugar kembali.
Saat ini telah banyak berkembang model skenario pembelajaran. Di antaranya adalah aplikasi teori quantum. Pentahapannya meliputi Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi, dan Rayakan. Pada Tumbuhkan: guru menumbuhkan minat siswa untuk mengikuti pembelajaran. Alami: siswa diberi kesempatan untuk mengalami hal yang akan dipelajari. Namai: siswa dengan dibimbing guru diajak untuk menemukan hasil pembelajaran. Demonstrasi: siswa diberi waktu untuk mendemonstrasikan hasil belajarnya. Ulangi: siswa dan guru mereview kembali proses dan hasil belajar yang telah mereka lakukan. Dan Rayakan: guru dan siswa merayakan keberhasilan mereka dalam mempelajari materi pelajaran. Rayakan daat berupa bernyanyi bersama, tepuk tangan, atau bentuk yang lainnya.
Sesungguhnya, skenario pembelajaran itu penting. Karena ia menjadi rel bagi kereta pembelajaran di kelas. Namun, yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan niat memola pembelajaran kreatif dan rekreatif dalam diri guru. Karena semangat itulah yang akan mewarnai proses belajar yang ia lakukan, dan yang akan diterima siswa. Sebaik apapun skenario, jika “sang masinis” tak lagi punya keinginan untuk berubah, maka kebaikan itu hanya akan ada di kertas belaka. Dan tak akan teraplikasikan dalam kenyataan. efendialhikmah@yahoo.co.id


tERJEMAHKAN

Kolom

Label:
Recent Posts
Widget by: Info Blog
 
Loading...

News - Berita

Berita dari ...