Mencoba halaman baru

rss

3 berita pendidikan

5 Opini Terbaru

» script dari http://o-om.com/
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2009

Mengapa bertanya ”mengapa” lima kali?

Alex Murgito *)

Anda yang mempunyai anak kecil, setiap hari anda akan menemukan pertanyaan “Apa ini, Pa?” “Apa ini, Ma?” “Kenapa kok begini?”
Sering pertanyaan yang diajukannya tidak berhenti sampai di sana. Dia akan terus mengejar dengan pertanyaan “Kenapa?” atau “Mengapa?” sampai kita tidak bisa menjawab.


Lewat pertanyaan-pertanyaan lugu seperti itu, mereka belajar hubungan sebab akibat. Jadi, tidak salah jika kita menganggapnya sebagai makhluk pembelajar.
Sayangnya, kemampuan tersebut berangsur-angsur berkurang begitu mereka beranjak dewasa. Bahkan hilang sama sekali. Mereka menjadi terbiasa menghafalkan data dan fakta.

Kita percaya pada pendapat yang dimasukkan ke kepala kita tanpa menilai secara kritis. Kita juga jarang mempertanyakan “kenapa” dan “mengapa” ketika diminta mengerjakan sesuatu.
Padahal pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering menjadi dasar kreativitas dan inovasi. Para inovator yang berhasil adalah orang-orang yang masih mampu mempertahankan sifat-sifat rasa ingin tahu bak seorang anak kecil.

Kita bisa mengulang masa kecil kita untuk meningkatkan kreativitas kita yang telah berkurang atau bahkan hampir hilang. Kita bisa memakai sebuah teknik yang dikenal sebagai 5-Whys (5-Mengapa) yang diperkenalkan oleh Toyota. Melalui teknik ini, kita diajak kembali untuk terus bertanya “Mengapa” sekitar 5 kali sampai kita mendapatkan jawaban final. (Angka 5 bukanlah angka mati. Mungkin Anda cuma perlu bertanya 3-4 kali, atau kadang-kadang 6 kali. Tetapi angka 5 dianggap cukup representatif.)

Pada awalnya, teknik ini digunakan untuk mengidentifikasikan masalah di jalur produksi yang muncul sampai ke akar permasalahan yang sebenarnya.
Misalnya, di pabrik dijumpai bahan baku yang sudah kadaluarsa. Dengan memakai teknik 5-Whys ini kita mengajukan pertanyaan “Why” yang pertama, “Mengapa bisa terjadi?”. Jawaban: “Karena barang-barang baru selalu diletakkan di atas sehingga barang-barang di bagian bawah jarang terpakai.”
Jangan puas dengan jawaban tersebut terlebih dahulu karena Anda baru memakai 1 “Why” dan masih ada 4 “Whys” yang tersisa.
Kejar terus dengan pertanyaan, “Mengapa cara tersebut dipakai?” Jawabannya mungkin, “Karena supervisor yang meminta kami melakukannya.”
Why yang ketiga: “Mengapa supervisor meminta begitu?” Jawaban berikutnya bisa jadi, “Karena dia menganggap ini bukanlah masalah penting.”
Why yang keempat, “Mengapa dia menganggap itu bukan masalah penting?” Jawaban yang datang kemudian, mungkin seperti ini: “Karena kenaikan gaji dan bonusnya dinilai berdasarkan keluaran mesin, bukan mengurus bahan baku.” Anda mungkin tidak perlu bertanya lebih lanjut bila merasa jawaban terakhir sudah menyentuh akar permasalahan.

Dari contoh di atas kita bisa melihat bagaimana pertanyaan “Why” yang terus menerus bisa menemukan masalah sebenarnya. Masalah bahan baku yang kadaluarsa tersebut bukan sekadar masalah kelalaian, tetapi merupakan masalah yang lebih sistemik yang menyangkut sistem kompensasi karyawan. Bila jumlah bahan baku yang rusak tersebut cukup besar, maka perusahaan perlu memperbaiki masalahnya tepat di sumbernya, yaitu di sistem kompensasi.

Cara ini termasuk murah meriah dan sangat berguna. Para anak kecil memakai teknik ini setiap hari dan menjadi bagian dari hidup mereka. Para guru, sangat sering menjumpai hal yang demikian. Karena kita semua pernah menjadi anak kecil, kita hanya perlu melatih kembali pemakaian teknik ini.
Mulailah bertanya “Mengapa?” terus menerus mulai sekarang.

*) Guru SDBI Al Hikmah

Rabu, 03 Juni 2009

Indahnya Kejujuran

Alex Murgito *)

Negara kurang mampu bersaing bukan karena kurangnya orang pintar atau sumber daya, melainkan karena rendahnya kejujuran rakyatnya. Untuk itu, menanamkan kejujuran kepada siswa sebagai generasi penerus bangsa adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya dalam ceramah atau pelajaran, melainkan juga melalui pembiasaan sehari-hari.

Bahkan ada guyonan, kejujuran itu mahal harganya. Mungkin karena yang bilang itu jarang menemukan kejujuran pada diri orang yang ditemuinya. Ini berarti kejujuran adalah barang antik yang dicari setiap orang tetapi keberadaannya terbatas.
Berbeda jika kita dengan mudah menemukan kejujuran. Kejujuran menjadi murah harganya karena mudah ditemui di sekitar kita.
Sekolah yang berhasil menanamkan kejujuran pada para siswa akan dengan mudah mendapatkan hal itu di sekolah setiap hari. Hal ini seperti peristiwa yang terjadi pada hari Selasa, 2 Juni 2009. Seorang siswa yang sebenarnya sangat pintar dan pendiam, yang sebenarnya sangat wajar mendapat di atas rata-rata, sebuah nilai yang lebih baik dari yang lain, menunjukkan kesalahan yang menguntungkan dirinya.. Jawaban siswa tersebut, dalam sebuah tes 15 soal pilihan ganda dan 5 soal essay, hanya salah satu. Dalam kesempatan ini dimanfaatkan guru untuk mengukur kejujuran siswa, yaitu dengan memberi nilai seratus kepada siswa tersebut, sebuah nilai yang biasa dia dapatkan dan hal itu diakui teman-temannya. Namun, sebenarnya pada saat itu, siswa tersebut tidak berhak mendapat nilai seratus.
Apa yang terjadi ketika hasil tes dibagikan? Siswa tersebut melaporkan ke guru, “Ustadz, jawaban saya salah satu. Jadi saya tidak seharusnya mendapat nilai seratus.”
Guru itu tertegun kepada siswa tersebut. Dalam batin sang guru berkata, “Alhamdulillah, dia lulus tes kejujuran. Dia tidak mau hasil ulangannya tercampuri dengan sesuatu yang tidak jujur.”
“Ini anak-anak. Kita memiliki teman yang sangat jujur. Meskipun dalam kondisi yang menguntungkannya, dia mau mengakui kesalahan dan menanggung akibatnya. Siapa yang mampu jujur seperti ini, akan selalu dihargai dan dihormati oleh lingkungannya.”
Sebuah contoh kecil dari lingkungan mereka yang sangat menarik dan biasanya akan membekas lebih dalam. Kejujuran yang demikian perlu kita jaga dan kita perkuat dengan memberi reward kepada kejujuran yang demikian. Bisakah hal itu kita lakukan bersama? (amur)

*) Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Rabu, 27 Mei 2009

Kualitas Pendidikan dalam Pilinan Uang


Mohammad Efendi *)

Menepiskan anggapan bahwa pendidikan tidak perlu modal besar, untuk era kini, mungkin hanya akan melahirkan cap gombal. Karena kenyataan telah membelalakkan mata kita, bahwa uang sering kali menjadi penentu kualitas pendidikan.

Ini telah terbukti, baik dalam ruang sempit maupun luas. Dalam lingkup pribadi, satuan pendidikan, maupun nasional. Hingga sebuah kegetiran sering menjadi peneman duka kaum papa, karena tiket memperoleh kelayakan ilmu tak mereka dapati. Tak salah kiranya jika sitir keputusasaan melagu dalam dada mereka: orang miskin dilarang sekolah. Hal inilah yang memurukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negeri ini ke peringkat 155, dari 150 negara.
Seorang teman wadul kepada saya; Mengapa sekolah baik itu mahal? Gelagapan saya mendapati kenyataan, bahwa ternyata ia telah menemukan satu garis ruwet yang terangkai dengan tak indah dalam variabel pendidikan kita. Saya pun manggut-manggut.
Mahalnya mewujudkan pendidikan berkualitas pasti tak hanya memusingkan dia sendiri. Tapi juga pemerintah kita. Saking semangatnya mengerek kualitas pendidikan Indonesia, sampai-sampai mereka berani mengalokasikan dalam APBN, 20 persen untuk sektor pendidikan. Meskipun kenyataan ternyata berbicara lain. Jauh panggang dari api. Dari seperlima anggaran APBN, hanya sekitar 9,1 persen saja yang bisa dipenuhi. Upaya mengangsur kuaitas pendidikan juga dilakukan pemerintah lewat BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Tujuan bantuan ini adalah untuk mengurangi beban wali murid dalam membayar uang sekolah anaknya. Namun, ironisnya, yang muncul di media massa, masih ada juga sekolah yang menarik biaya ini-itu dari siswa. Atau mengakali meninggikan pungutan sekolahnya, hingga wali murid tetap harus membayar kekuranyannya. Senapas dengan BOS, baru-baru ini sekolah menerima aliran dana BOS buku. Sesuai namanya, BOS buku ini dialokasikan untuk pembelian buku paket siswa. Buku paket yang tercover tunjangan ini ada tiga: Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Masing-masing buku paket mendapat tunjangan 20 ribu rupiah. Namun sayang, pencairan dana ini tak sesuai waktu. Pencairannya dilakukan pada pertengahan semester. Hingga dapat dipastikan, tetap saja wali murid merogoh kantongnya untuk membeli buku paket. Karena pembeliannya dilakukan di awal semester.
Sisi lain yang membuat seretnya guliran roda pendidikan di negeri ini memang masih mahalnya buku. Namun, bukan tak ada contoh negara yang berhasil menekan harga buku sedemikian rupa, hingga bisa dijangkau khalayak umum. Bukan hanya buku-buku pelajaran yang ringan di katong, tapi juga koran dan majalah. Negara tersebut adalah India. Sebuah negara yang kian mengukuhkan cengkeramannya di Asia, selain Tiongkok. Resep yang dijalankan India tidak rumit; subsidi kertas. Guna menekan harga buku-buku asing, pemerintah tak segan-segan bekerja sama dengan penerbit-penerbit besar, seperti Penguin Book. Tujuannya, agar buku yang mereka terbitkan, dapat dicetak di India saja. Hingga akhirnya, banderol harga yang sampai di konsumen bisa murah. Ini bisa ditiru pemerintah. Alokasi subsidi BBM bisa sebagian dialihkan ke sektor ini. Melongok ke belakang, sebenarnya keinginan memurahkan harga buku sebenarnya telah disampaikan oleh Bung Karno. Dalam sebuah rapat akbar, beliau pernah memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masa itu, Priyono, untuk menerbitkan buku murah untuk rakyat.
Sebagai penutup tulisan ini, disadari, bahwa sesungguhnya beratnya beban pendidikan Indonesia tak selayaknya hanya diserahkan pada pemerintah. Memosisikan pemerintah sebagai single fighter hanya akan melahirkan harapan semu belaka. Oleh karenanya, butuh pemberdayaan elemen-elemen masyarakat. Kita mensyukuri adanya wadah-wadah katalis kualitas pendidikan yang kini muncul di Surabaya dan sekitarnya. Semacam KPI (Konsorsium Pendidikan Islam), dan lainnya. Tapi, untuk lahan garapan seluas Indonesia raya, butuh puluhan, mungkin ratusan wadah seperti itu. Pertanyaannya, maukah kita mengambil bagian untuk itu?
efendialhikmah@yahoo.co.id

*) Guru SD Al Hikmah Full-Day School Surabaya

Minggu, 26 April 2009

Continue Education 2008 Perlu dilanjutkan ?


Mochamad Ridwan, S.Pd. *)

Program Continue Education adalah wujud nyata Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk membentuk dan mencetak guru SD yang berkualitas dan layak mengajar. Besar manfaat yang dirasakan pengajar SD terutama yang selama ini ilmu yang mereka peroleh serasa mengalami penyegaran kembali. Manfaat yang aplikatif ini mengandung harapan agar pelatihan semacam ini perlu dilanjutkan dalam bentuk yang sama atau bahkan lebih baik dari ini dengan materi cakupan yang lain.


Mulai tanggal 19 Oktober sampai dengan 14 Desember 2008 program Continue Education yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Surabaya bekerjasama dengan Universitas Negeri Surabaya dilaksanakan. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh guru SD negeri dan swasta selingkup wilayah kerja Diknas Kota Surabaya terutama guru kelas jenjang kelas 4-6 SD. Pelatihan ini dilaksanakan bertempat di kampus Universitas Negeri Surabaya dengan sistematika 8 kali tatap muka / pertemuan, setara menempuh mata kuliah 2 SKS. Di akhir pertemuan diadakan ujian akhir dengan soal yang disesuaikan dengan materi pelatihan. Materi yang diberikan adalah Asesmen atau penilaian pembelajaran dan Pembelajaran Inovatif dengan tutor dosen dari Universitas Negeri Surabaya yang kompenten di bidangnya. Adanya program yang digulirkan Diknas ini semula disambut dingin oleh para guru SD dengan alasan program ini terkesan mendadak dan waktu pelaksanaannyapun bertepatan setiap hari Minggu. Tetapi kiranya karena tanggung jawab seorang pengajar untuk terus menambah ilmu dan pengetahuan serta memperoleh sertifikat penghargaan mengikuti pelatihan, maka peserta tetap mengikuti dengan antusias walaupun pelaksanaanya menyita waktu untuk keluarga.

Apa esensi dari Continue Education 2008 ini ?
Melihat dari itikad baik Pemerintah kota Surabaya dalam hal ini Diknas Kota Surabaya untuk memajukan pendidikan terutama memajukan kualitas dan kuantitas guru, mungkin inilah salah satu cara yang tepat dalam mewujudkan impian ini. Apalagi pemerintah pada tahun 2009 berencana menaikkan gaji PNS Guru menjadi minimal 2 juta per bulan, tidak berlebihan kiranya usaha menaikkan grade kualitas guru ini digulirkan. Pemerintah tidak mau kecolongan lagi dengan pengalaman–pengalaman sinis sebelumnya yang terjadi pada para pengajar ini. Guru tidak dipandang menjadi sekedar profesi yang biasa dengan penghasilan dan kemampuan yang seadanya, tetapi profesi dan kemampuan luar biasa sehingga generasi yang dibimbingnya menjadi generasi yang bisa bersaing diantara warga dunia bukan hanya sekedar berdemonstrasi apalagi disertai tindakan anarkis pengerusakan fasilitas. Untuk itu pemerintah Kota Surabaya melalui Diknas Pendidikan berusaha membuat guru-guru selalu dalam kondisi fress graduated. Salah satunya dengan diselenggarakan program continue education ini. Materi yang disampaikan dalam pelatihan inipun adalah materi yang dihubungkan dengan permasalahan sehari-hari yang selalu dihadapi oleh guru. Tujuannya jelas agar guru secara aplikatif mengamalkan ilmu yang didapat agar dunia pendidikan semakin maju berkembang.
Esensi yang kedua adalah berhubungan erat dengan program sertifikasi guru. Dengan semakin banyak guru mengikuti pelatihan-pelatihan pendidikan maka semakin banyak pula point yang dikumpulkan guru tersebut untuk mengikuti sertifikasi. Tetapi adalah naïf kiranya mengikuti pelatihan ini hanya mengharapkan sekedar kertas piagam atau sertifikat tanpa tahu dan ambil manfaat yang dibisa diaplikasikan dalam keseharian mengajar di kelas. Oleh karena itu program ini memang dirancang agar para guru khususnya guru SD bisa berkembang dan bertambah ilmu pengetahuannya.

Harapan Continue Education 2008
Bagi Diknas Kota Surabaya tentu program pelatihan ini adalah perbaikan kualitas dan kuantitas guru segera terwujud sebelum diberlakukannya anggaran 20% pendidikan oleh pemerintah yang insyaAllah rencananya mulai berjalan tahun 2009. Persiapan ini juga menjadi tantangan tersedianya guru-guru yang mampu menunjukkan prestasi di bidang akademik maupun pedagogis. Tidak menutup kemungkinan bahwa di kota Surabaya akan mempunyai beberapa guru bahkan semua yang menjadi pioner dalam percontohan guru-guru berkualitas di daerah lain. Memang benar adanya bahwa dunia pendidikan ujung tombaknya adalah guru. Ditangan guru tersebut mampu mengubah sejarah suatu bangsa. Bagi guru sendiri harapannya dengan adanya program pelatihan ini adalah pendalaman materi keguruan dan teknik-teknik penyampaian materi dalam proses kegiatan pembelajaran. Untuk pelatihan ini kebetulan materinya hanya seputar kemampuan penyampaian materi kepada siswa sebagai peserta didik, serta kemampuan menganalisis umpan balik dalam suatu proses pembelajaran. Tidak mudah bagi pengajar yang rata-rata pengalaman mengajarnya lebih dari 10 tahun tanpa pernah sesekalipun mencarge kemampuannya, bisa mengajar dengan baik. Fakta inilah yang membuktikan jika program pelatihan continue education 2008 ini perlu diikuti semua guru.
Nah apakah setelah selesai 14 Desember 2008 lalu kemudian program continue education ini dicukupkan sampai disini ? ataukah program ini hanya suatu try out bagi agenda Diknas Kota Surabaya?. Kemungkinan besar walaupun program pelatihan ini digelar tanpa sengaja, tetapi sudah menjadi hati bagi sebagian besar pengajar SD di Kota pahlawan ini. Manfaat yang diperoleh lebih besar kiranya sehingga bisa diaplikasikan di sekolah masing-masing, karena itu harapan kami sebagai guru-guru SD kiranya tidak berlebihan di tahun 2009, program pelatihan semacam ini bisa dilakukan lagi dengan materi yang berbeda sesuai dengan permasalahan-permasalahan kami yang kami hadapi di kelas. Begitupun pelayanan pihak Universitas Negeri Surabaya sebagai tempat pelatihan, bagi kami adalah menunjukkan kuantitas suatu pelatihan yang perlu diperhatikan lebih baik lagi. Memang agak terkesan tidak mengenakkan apabila terdapat oknum yang kurang ramah selama pelatihan berlangsung. Semoga semua ini mewakili ungkapan hati seluruh guru-guru SD negeri dan swasta yang mengikuti continue education 2008.

*) Guru SD Al Hikmah Surabaya

tERJEMAHKAN

Kolom

Label:
Recent Posts
Widget by: Info Blog
 
Loading...

News - Berita

Berita dari ...