Mencoba halaman baru

rss

3 berita pendidikan

5 Opini Terbaru

» script dari http://o-om.com/
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2009

Indahnya Kejujuran

Alex Murgito *)

Negara kurang mampu bersaing bukan karena kurangnya orang pintar atau sumber daya, melainkan karena rendahnya kejujuran rakyatnya. Untuk itu, menanamkan kejujuran kepada siswa sebagai generasi penerus bangsa adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya dalam ceramah atau pelajaran, melainkan juga melalui pembiasaan sehari-hari.

Bahkan ada guyonan, kejujuran itu mahal harganya. Mungkin karena yang bilang itu jarang menemukan kejujuran pada diri orang yang ditemuinya. Ini berarti kejujuran adalah barang antik yang dicari setiap orang tetapi keberadaannya terbatas.
Berbeda jika kita dengan mudah menemukan kejujuran. Kejujuran menjadi murah harganya karena mudah ditemui di sekitar kita.
Sekolah yang berhasil menanamkan kejujuran pada para siswa akan dengan mudah mendapatkan hal itu di sekolah setiap hari. Hal ini seperti peristiwa yang terjadi pada hari Selasa, 2 Juni 2009. Seorang siswa yang sebenarnya sangat pintar dan pendiam, yang sebenarnya sangat wajar mendapat di atas rata-rata, sebuah nilai yang lebih baik dari yang lain, menunjukkan kesalahan yang menguntungkan dirinya.. Jawaban siswa tersebut, dalam sebuah tes 15 soal pilihan ganda dan 5 soal essay, hanya salah satu. Dalam kesempatan ini dimanfaatkan guru untuk mengukur kejujuran siswa, yaitu dengan memberi nilai seratus kepada siswa tersebut, sebuah nilai yang biasa dia dapatkan dan hal itu diakui teman-temannya. Namun, sebenarnya pada saat itu, siswa tersebut tidak berhak mendapat nilai seratus.
Apa yang terjadi ketika hasil tes dibagikan? Siswa tersebut melaporkan ke guru, “Ustadz, jawaban saya salah satu. Jadi saya tidak seharusnya mendapat nilai seratus.”
Guru itu tertegun kepada siswa tersebut. Dalam batin sang guru berkata, “Alhamdulillah, dia lulus tes kejujuran. Dia tidak mau hasil ulangannya tercampuri dengan sesuatu yang tidak jujur.”
“Ini anak-anak. Kita memiliki teman yang sangat jujur. Meskipun dalam kondisi yang menguntungkannya, dia mau mengakui kesalahan dan menanggung akibatnya. Siapa yang mampu jujur seperti ini, akan selalu dihargai dan dihormati oleh lingkungannya.”
Sebuah contoh kecil dari lingkungan mereka yang sangat menarik dan biasanya akan membekas lebih dalam. Kejujuran yang demikian perlu kita jaga dan kita perkuat dengan memberi reward kepada kejujuran yang demikian. Bisakah hal itu kita lakukan bersama? (amur)

*) Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Kamis, 16 April 2009

SEBUAH BARANG LANGKA YANG BERNAMA KEJUJURAN

oleh : Siti Muniroh *)

Shock, marah, kecewa, malu, sedih dan segala perasaan bercampur aduk menjadi satu. Itu yang saya dan teman-teman rasakan saat itu, saat anak-anak kami dengan segala kejujurannya mengaku bahwa selama ini mereka kerapkali berbuat kecurangan dalam ulangan.

Bahkan muka salah satu teman saya yang biasanya tampak tenang dan sangat sabar, saat itu tampak merah padam. Bagaimana tidak? Saya tahu betapa bangganya beliau terhadap anak-anak didiknya, anak-anak yang punya kemampuan sangat baik, bahkan bisa dikatakan lebih dari teman-temen mereka di kelas lainnya. Mereka yang selama ini menjadi tonggak harapan kami. Tetapi, kenyataan pahit yang harus kami hadapi saat itu, justru mereka yang paling banyak melakukan kecurangan, mereka yang paling lihai bagaimana cara melakukan kecurangan dalam ulangan tanpa harus ketahuan.

Tetapi seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sepandai-pandai kuda berlari, suatu saat pasti akan terjatuh juga. Serapat-rapatnya bangkai busuk disembunyikan pasti akan tercium juga baunya. Mungkin itu yang sedang terjadi saat itu, kelihaian mereka berbuat kecurangan dalam ulangan terbongkar sudah.

“NYONTEK”, mungkin kata ini tidak asing bagi anda, dan bisa jadi anda juga termasuk salah satu orang yang pernah melakukannya. Bahkan mungkin bagi sebagian orang karena saking terbiasanya, perbuatan satu ini menjadi sangat biasa dan seolah-olah menjadi halal dan sah-sah saja untuk dilakukan. Apalagi saat musim ujian seperti saat ini, nyontek justru menjadi trend dan tradisi. Lebih tragisnya lagi kalau inisiatif untuk nyontek tidak hanya datang dari siswa itu sendiri, tapi atas inisiatif gurunya. Na’udzubillahi min dzalik.

“PENCURI”, itu kata pertama yang disebutkan teman saya di hadapan anak-anak didik kami yang tertunduk malu dan takut seperti maling ayam yang tertangkap basah. Di sebuah ruangan yang cukup besar itu mereka berkumpul, duduk diam, hening tak ada satupun yang berani berbicara. Padahal biasanya ruangan itu tidak pernah sesunyi itu. Mereka seperti terdakwa yang sedang diadili dan siap menerima vonis apapun yang akan dijatuhkan kepada mereka.

Ya, Pencuri adalah sebutan bagi orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk dimilikinya. Masih mending kalau yang diambil adalah sebuah barang, ayam misalnya, ketika sadar dan bertaubat pencuri itu bisa mengembalikan kepada pemiliknya, banyak memohon ampunan kepada Allah selesai masalah. Tetapi kalau yang dicuri berupa jawaban, nilai, prestasi, hak orang lain, bagaimana cara menggalikannya? Mereka ditanya bagaimana mengembalikan hak teman-teman mereka yang tergeser ke bawah karena mereka jujur, padahal mestinya mereka yang semestinya ada di kelas atas, kelas yang mereka tempati sekarang dengan hasil kecurangan. Bagaimana pula dengan para orang tua yang selama ini mereka bohongi mentah-mentah, apa mereka akan meminta maaf kepada mereka satu-persatu?

Mereka hanya terdiam, semakin menunduk, semakin merasa bersalah. Apalagi ketika diingatkan bagaimana orang tua mereka kelak mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah? Bagaimana kami para guru mereka kelak menjawab jika Allah merpertanyakannya kelak di hari kiamat? Bukankah mereka tangung jawab orang tua, tanggung jawab kami para pendidik yang menjadi orang tua kedua mereka untuk mendidik mereka dengan baik? Mereka semakin terdiam, bahkan beberapa dari mereka tampak meneteskan air mata, menangis lirih. Alhamdulillah…mudah-mudahan itu benar-benar air mata penyesalan, air mata taubat yang akan mengikis habis dosa-dosa mereka. Dengan lantunan alQur’an yang mengalir dari bibir mereka, mereka berurai airmata.
Anak-anakku, mudah-mudahan setelah ini kalian benar-benar menjadi hamba-hamba Allah yang jujur. Jangan pernah kalian mengotori hidup kalian dengan kecurangan, jangan kalian campurkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan biarkan nila setitik merusak susu sebelanga. Berapapun yang halal akan menjadi haram jika sedikit saja kalian campurkan di dalamnya sesuatu yang haram. Orang yang baik bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang mau meyadari kesalahnnya dan memperbaikinya. Dan mudah-mudahan kalian semua adalah orang-orang yang seperti itu, yang mau menyadari kesalahan dan memperbaikinya.

Bagi sebagian orang mungkin yang kami lakukan berlebihan, terlebih bagi anda yang menganggap nyontek adalah hal biasa, bukan sesuatu yang besar. Tetapi bagi kami, nyontek bukan hal yang kecil, tetapi sesuatu yang sangat besar dan patut untuk dipermasalahkan. Membiarkan anak-anak kami menyontek saat ulangan atau ujian sama halnya membiarkan mereka menjadi pencuri, menjadi maling. Apa jadinya mereka kelak jika sejak kecil mereka sudah terbiasa berbuat curang, terbiasa mencuri, terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya, terbiasa mengambil hak orang lain?
Mungkin para pejabat yang saat ini menjadi koruptor bukan sepenuhnya salah mereka, bisa jadi kita pendidik ikut andil di dalamnya. Mungkin ketika mereka masih kecil, ketika mereka masih di bangku sekolah, kita para pendidik lupa mengingatkan mereka pentingnya sebuah kejujuran. Kita biarkan saja mereka ketika tahu mereka berbuat curang. Bahkan terkadang untuk sebuah kata yang bernama “LULUS”, justru kita yang mengajarkan mereka untuk berbuat curang. Astaghfirullah…mudah-mudahan Engkau ampuni kesalahan kami ya Allah.

Yang kami lakukan hari itu hanyalah sedikit dari usaha kami untuk mengingatkan anak-anak kami akan pentingnya sebuah kejujuran. Kami tidak ingin kejujuran menjadi barang langka. Kami hanya ingin jika kelak menjadi apapun mereka, mereka menjadi profeional-profesional yang jujur. Kami tidak ingin mereka menjadi orang-orang yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendaptkan keinginan mereka. Kami ingin mereka menjadi putera-putera bangsa yang kelak akan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Kami tidak ingin anak-anak kami menjadi para koruptor yang akan menghancurkan negeri sendiri. Naudzubillah…

Akhir kata, saya teringat sebuah ayat “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairay yarah, waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah.”

“Maka barangsiapa berbuat kebaikan sebarat zarrah (biji sawi/atom)) pun, niscaya kelak dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat zarrah (biji sawi/atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Wallahu a’lam bishshawaab.

*) Guru SDBI Al Hikmah

Kamis, 26 Maret 2009

Potong Kuku Pun Berpahala

Oleh : Muniroh, Guru SDBI Al Hikmah

Tangan anda pernah dipukul dengan penggaris oleh guru gara-gara kuku panjang? jika pernah, maka anda mengalami nasib yang sama dengan saya. Tapi itu dulu sekali ketika saya masih ada di bangku SD dan SMP. Bukannya tidak tahu bahwa membiarkan kuku panjang dan hitam itu jorok, tapi ya...namanya juga masih anak-anak. Banyak lupanya sama hal yang begituan karena yang ada di benak anak-anak ya cuma main, main dan main. Begitu tiba-tiba di sekolah kepala sekolah mengadakan razia kuku ke setiap kelas, baru deh bingungnya bukan main. Biar tidak kena pukul, berbagai macam cara dilakukan. Ada yang cepet-cepet kukunya dipotong pakai gunting (gunting biasa, karena gunting kuku masih langka saat itu), ada yang pakai silet, dan jalan terakhir kalau terpaksa tidak ada gunting dan silet, ya pakai gigi. Itu pun kalau keburu. kalau ga' keburu, "ndakk!" alamat deh kena pukul garisan panjang.

Bisa jadi di beberapa sekolah hal tersebut masih anda jumpai sampai saat ini. Padahal sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Satu hal yang saya pelajari dari sekolah tempat saya sekarang mengajar, bahwa ada cara yang lebih baik untuk membuat anak-anak mau memotong kuku tanpa harus dipaksa atau ditakut-takuti dengan pukulan. Yaitu melalui pembiasaan. Dan sejauh yang saya amati itu lebih efektif daripada melalui ancaman dengan pukulan.

Namun, pembiasaan yang seperti itu tidak instan. Anak-anak terlebih dahulu diberi pengertian tentang betapa pentingnya memotong kuku. Terlebih lagi bagi seorang muslim memotong kuku merupakan salah satu fitrah dan sunnah rasul yang mesti senantiasa dilakukan di setiap hari jum'at. Artinya memotong kuku adalah bagian dari ibadah. Dan otomatis karena itu ibadah berarti kalau dilakukan dengan ikhlas pasti dapat pahala. Dalam Islam juga seringkali digemborkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Bagaimana imannya jadi baik kalau menjaga kebersihan kuku saja tidak bisa.

Seiring dengan pemahaman hal tersebut terhadap anak-anak, pembiasaan juga dilakukan dengan kontrol yang baik, konsisten dan kontinyu dari para guru.

Jika anda datang ke sekolah saya pada hari jum'at pagi, maka saya dapat pastikan anda akan menjumpai beberapa anak-anak tanpa diperintah mereka akan menunjukkan kedua tangannya kepada ustad/ustadzah yang telah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kehadiran mereka di kelas. Bagi mereka yang merasa kukunya belum bersih dengan sendirinya mereka akan minggir untuk tetap berdiri di luar untuk memotong kuku sampai bersih. jika tidak punya pemotong kuku sendiri, mereka akan sabar menunggu temannya selesai memotong agar dapat bergantian meminjam pemotong kukunya. Pemandangan ini akan anda jumpai di setiap jum'at pagi.

Apakah ada rasa takut tampak di wajah mereka yang berada di luar? saya pastikan tidak akan ada. Karena memang mereka tidak sedang dihukum. Mereka hanya perlu memotong kuku mereka sampai bersih dalam rangka menunaikan sunnah rasul di setiap hari jum'at, kemudian mereka dapat masuk kembali ke kelas seperti biasa. Kadang bagi sebagian mereka yang sudah mulai tumbuh remaja dan ingin memelihara kuku yang panjang yang indah sebagaimana tren yang ada, kegiatan ini jadi tidak menyenangkan. Mereka akan mencoba merayu ustadz/ustadzahnya untuk diizinkan memelihara kuku panjang. Di sinilah tugas ustadz/ustadzah untuk meyakinkan kembali mereka, dan biasanya selalu berhasil. Pada akhirnya mereka akan memotong kuku mereka meskipun harus melalui diskusi panjang.


Andai dari dulu saya tahu bahwa potong kuku berpahala pasti saya akan dengan senang hati melakukannya, tanpa harus kena pukul penggaris panjang. Aduh, sakit! seakan-akan sakitnya masih terasa sampai hari ini.

Sebagai bahan renungan, baginda Rasul saw. pernah bersabda:

"Fitrah manusia ada lima yaitu dikhitan (disunat), mencukur rambut kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (kuku tangan dan kaki) serta mencabuti bulu ketiak." (HR. Bukhari)


"Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang." (HR. Ahmad)


tERJEMAHKAN

Kolom

Label:
Recent Posts
Widget by: Info Blog
 
Loading...

News - Berita

Berita dari ...