Mencoba halaman baru

rss

3 berita pendidikan

5 Opini Terbaru

» script dari http://o-om.com/

Minggu, 29 Maret 2009

Suasana Haru dan Bahagia Mewarnai Pengumuman PMB di Al Hikmah


Adalah saat yang diunggu-tunggu oleh calon wali murid Al Hikmah, Sabtu, 28 Maret 2009 tepat pukul 08.00 WIB secara serentak mulai Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, dan SMA diumumkan hasil observasi / Tes penerimaan di Al Hikmah. Berikut adalah salah satu suasana haru, bahagia, dan tegang mewarnai perasaan anak-anak dan wali murid yang melihat langsung pengumuman di SD Al Hikmah.


Kamis, 26 Maret 2009

Potong Kuku Pun Berpahala

Oleh : Muniroh, Guru SDBI Al Hikmah

Tangan anda pernah dipukul dengan penggaris oleh guru gara-gara kuku panjang? jika pernah, maka anda mengalami nasib yang sama dengan saya. Tapi itu dulu sekali ketika saya masih ada di bangku SD dan SMP. Bukannya tidak tahu bahwa membiarkan kuku panjang dan hitam itu jorok, tapi ya...namanya juga masih anak-anak. Banyak lupanya sama hal yang begituan karena yang ada di benak anak-anak ya cuma main, main dan main. Begitu tiba-tiba di sekolah kepala sekolah mengadakan razia kuku ke setiap kelas, baru deh bingungnya bukan main. Biar tidak kena pukul, berbagai macam cara dilakukan. Ada yang cepet-cepet kukunya dipotong pakai gunting (gunting biasa, karena gunting kuku masih langka saat itu), ada yang pakai silet, dan jalan terakhir kalau terpaksa tidak ada gunting dan silet, ya pakai gigi. Itu pun kalau keburu. kalau ga' keburu, "ndakk!" alamat deh kena pukul garisan panjang.

Bisa jadi di beberapa sekolah hal tersebut masih anda jumpai sampai saat ini. Padahal sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Satu hal yang saya pelajari dari sekolah tempat saya sekarang mengajar, bahwa ada cara yang lebih baik untuk membuat anak-anak mau memotong kuku tanpa harus dipaksa atau ditakut-takuti dengan pukulan. Yaitu melalui pembiasaan. Dan sejauh yang saya amati itu lebih efektif daripada melalui ancaman dengan pukulan.

Namun, pembiasaan yang seperti itu tidak instan. Anak-anak terlebih dahulu diberi pengertian tentang betapa pentingnya memotong kuku. Terlebih lagi bagi seorang muslim memotong kuku merupakan salah satu fitrah dan sunnah rasul yang mesti senantiasa dilakukan di setiap hari jum'at. Artinya memotong kuku adalah bagian dari ibadah. Dan otomatis karena itu ibadah berarti kalau dilakukan dengan ikhlas pasti dapat pahala. Dalam Islam juga seringkali digemborkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Bagaimana imannya jadi baik kalau menjaga kebersihan kuku saja tidak bisa.

Seiring dengan pemahaman hal tersebut terhadap anak-anak, pembiasaan juga dilakukan dengan kontrol yang baik, konsisten dan kontinyu dari para guru.

Jika anda datang ke sekolah saya pada hari jum'at pagi, maka saya dapat pastikan anda akan menjumpai beberapa anak-anak tanpa diperintah mereka akan menunjukkan kedua tangannya kepada ustad/ustadzah yang telah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kehadiran mereka di kelas. Bagi mereka yang merasa kukunya belum bersih dengan sendirinya mereka akan minggir untuk tetap berdiri di luar untuk memotong kuku sampai bersih. jika tidak punya pemotong kuku sendiri, mereka akan sabar menunggu temannya selesai memotong agar dapat bergantian meminjam pemotong kukunya. Pemandangan ini akan anda jumpai di setiap jum'at pagi.

Apakah ada rasa takut tampak di wajah mereka yang berada di luar? saya pastikan tidak akan ada. Karena memang mereka tidak sedang dihukum. Mereka hanya perlu memotong kuku mereka sampai bersih dalam rangka menunaikan sunnah rasul di setiap hari jum'at, kemudian mereka dapat masuk kembali ke kelas seperti biasa. Kadang bagi sebagian mereka yang sudah mulai tumbuh remaja dan ingin memelihara kuku yang panjang yang indah sebagaimana tren yang ada, kegiatan ini jadi tidak menyenangkan. Mereka akan mencoba merayu ustadz/ustadzahnya untuk diizinkan memelihara kuku panjang. Di sinilah tugas ustadz/ustadzah untuk meyakinkan kembali mereka, dan biasanya selalu berhasil. Pada akhirnya mereka akan memotong kuku mereka meskipun harus melalui diskusi panjang.


Andai dari dulu saya tahu bahwa potong kuku berpahala pasti saya akan dengan senang hati melakukannya, tanpa harus kena pukul penggaris panjang. Aduh, sakit! seakan-akan sakitnya masih terasa sampai hari ini.

Sebagai bahan renungan, baginda Rasul saw. pernah bersabda:

"Fitrah manusia ada lima yaitu dikhitan (disunat), mencukur rambut kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (kuku tangan dan kaki) serta mencabuti bulu ketiak." (HR. Bukhari)


"Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang." (HR. Ahmad)


Selasa, 24 Maret 2009

Olimpiade Sastra, Sebuah Langkah Maju

[ JP Minggu, 22 Maret 2009 ]
Oleh : Dwi Indriyanti, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SD Al Hikmah, Surabaya

Rencana Depdiknas menggelar olimpiade sastra untuk tingkat SD pada 2009 merupakan terobosan di dunia pendidikan. Selama ini, olimpiade identik dengan dua bidang studi, yakni matematika dan sains. Penyelenggaraan dua olimpiade tersebut bahkan sudah menjadi agenda tahunan. Karena itu, rencana tersebut dapat dikatakan langkah maju.

Sudah jamak dalam pandangan orang awam, bahkan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, bahwa kepintaran seseorang dilihat dari perolehan nilai matematika atau sains. Anak yang mendapatkan nilai tinggi pada mata ajar tersebut mendapat label pandai atau cerdas. Sedangkan, mereka yang memiliki kelebihan di bidang humaniora (sosial), bahasa, dan sastra tetap dianggap memiliki "kekurangan."

Sering, anak atau guru yang mumpuni di dua bidang itu (matematika/sains) dielu-elukan saat mereka memenangi kejuaraan. Sekolah juga rela mengeluarkan biaya besar untuk mencetak jawara-jawara dua mata pelajaran tersebut. Sebaliknya, siswa yang menang lomba puisi diperlakukan beda, dianggap "penggembira", bahkan tak jarang dipandang sebelah mata.

Ada beberapa hal yang melatari terpinggirkannya pengajaran sastra. Pertama, persentase pengajaran sastra pada kurikulum kita kecil sekali dibandingkan mata pelajaran lain. Pengajaran sastra di SD boleh dibilang hanya sebagai pelengkap. Di kelas 4, misalnya, pengajaran sastra hanya ada di semester 2, itu pun dengan porsi kecil. Jumlah jam pengajaran bahasa dan sastra juga lebih sedikit dibandingkan mata pelajaran lain.

Kedua, kebanyakan pengajar hanya mengajarkan sastra sebatas teori dan hafalan, tidak menekankan pada apresiasi. Boleh jadi, itu disebabkan guru kurang memiliki kemampuan dan apresiasi di bidang sastra. Karena pengajarannya kurang menarik, siswa jadi tak tertarik.

Ketiga, kurangnya bahan bacaan sastra. Bagi sekolah yang memiliki perpustakaan memadai, ketersediaan buku bacaan sangat mencukupi. Sehingga, siswa dapat membaca beragam buku sastra. Namun, sebagian besar sekolah belum memiliki perpustakaan yang baik. Itu diperparah rendahnya minat baca.

Keempat, ada pandangan bahwa mempelajari satra hanya buang-buang waktu, tidak ada gunanya. Jurusan IPA juga dipandang jauh lebih baik daripada jurusan IPS dan bahasa. Karena itu, pengembangan di bidang sastra dianggap tidak perlu. Lebih ironis lagi, pembinaan guru matematika dan IPA lebih diutamakan daripada guru bahasa dan sastra.

Melihat marginalisasi sastra tersebut, rasanya perlu kita renungkan beberapa hal berikut. Pertama, sesungguhnya pengajaran sastra memiliki peran besar dalam penanaman nilai kehidupan dan kemanusian pada siswa. Simak saja anekdot berikut. Mengapa orang Jepang bisa menjadi negara maju, sementara kita tidak? Yang membedakan adalah saat kita kecil dulu, yang sering diperdengarkan kepada anak adalah cerita Kancil Mencuri Ketimun. Yang didengar anak Jepang, di sisi lain, adalah cerita Katak Hendak Menjadi Raja. Karena itu, bangsa kita punya sederet koruptor.

Bisa jadi, itu bukan sekadar anekdot. Pengajaran sastra yang memotivasi memang merupakan investasi masa depan bagi moral bangsa, demikian pula sebaliknya. Orang bijak berkata, jika seseorang gemar membaca karya sastra, dia akan jadi orang yang dapat menghargai orang lain. Karena itu, dunia akan menjadi damai, tak ada pertengkaran, tak ada perang.

Kedua, penghargaan terhadap karya sastra merupakan pengakuan bahwa sastra setara dengan ilmu lain. Di negara maju, penghargaan terhadap karya sastra dan sastrawan jauh lebih baik. Bahkan, saat pelantikan salah satu presiden Amerika Serikat, pernah ditampilkan pembacaan puisi. Karena itu, buku sastra berkembang pesat. J.K. Rowling, penulis Harry Potter, juga menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.

Di Indonesia, pengakuan terhadap karya sastra mulai menunjukkan peningkatan. Salah satunya adalah fenomena Laskar Pelangi. Penulis novel itu menerima royalti tak kurang dari Rp 4,5 miliar (Edi S. Mulyanta, 24/11).

Karena itu, langkah pemerintah mengadakan olimpiade sastra tingkat SD sebagai penghargaan terhadap siswa yang mendalami satra perlu didukung. Sebagai bagian dari elemen pendidikan, kita perlu mengupayakan agar wajah pendidikan tak lagi berpihak pada mata ajar tertentu. Sehingga, kita bisa menerima talenta siswa sebagai kelebihan yang sama. (soe)


Jumat, 27 Februari 2009

SD BI AL HIKMAH: BEYOND EXPECTATION

Globalisasi dalam berbagai bidang adalah sebuah keniscayaan. Jarak dan waktu nantinya bukan menjadi menjadi halangan berarti untuk terus berkembang. Siapa yang lebih siap menghadapi masa depan itulah yang jadi pemenang. Mereka adalah generasi yang mampu menyesuaikan diri di belahan dunia manapun dan dalam budaya apa pun tanpa menanggalkan prinsip-prinsip dasar yang dianutnya.
Menyadari akan pentingnya kesiapan generasi menyambut globalisasi, SD Al Hikmah Surabaya mengambil langkah konkrit...
dengan menjadi sekolah dasar bertaraf internasional (SDBI). Ya.., terhitung sejak tahun ajaran 2008 – 2009 SD Al Hikmah telah resmi dan berhak menyandang sebutan SD BI Al Hikmah. Adalah Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Diknas pusat yang menunjuk langsung dan member kepercayaan penuh kepada Al Hikmah untuk menjadi SD BI pertama di Surabaya dan satu dari empat sekolah di jawa timur. Bahkan, SD Al Hikmah yang merupakan satu-satunya sekolah swasta penyandang SD BI di Jatim menjadi coo0rdinator seluruh SD BI di wilayah pulau jawa yang berjumlah sekitar 20 sekolah
“Sebetulnya banyak sekolah baik yang mengirim proposal ke direktorat untuk dijadikan SDBI baik katagori mandiri maupun katagori binaan, akan tetapi hanya beberapa yang dipilih termasuk Al Hikmah karena sudah dikenal melalui prestasi sekolah, guru, maupun siswa baik tingkat nasional maupun internasional”, demikian ujar Ustad Gatot Sulanjono, kepala SD Al Hikmah Surabaya. SD Al Hikmah sendiri termasuk SD BI binaan diknas kategori existing development, artinya pengembangan sekolah yang sudah ada menjadi SD BI. “Sebetulnya proposal kita ke Diknas minta katagori mandiri, tetapi direspon lebih oleh diknas dengan memasukkan SD Al Hikmah dalam kelompok binaan. Tentu saja ini lebih dari yang kita harapkan karena dengan demikian ada bantuan-bantuan dari pemerintah yang memudahkan kita dalam operasional SD BI”, lanjut Ustad Gatot.
Sebagai tindak lanjut kepercayaan Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Diknas pusat kepada SD Al Hikmah, pada tanggal 19 dan 20 Januari 2009 SD Al Hikmah ditunjuk menjadi tuang rumah sekaligus penyelenggara pertemuan 66 kepala sekolah SD BI se Indonesia. Pada kesempatan itu dimanfaatkan pula oleh para kepala sekolah untuk studi banding dan melihat secara langsung kesiapan SD Al Hikmah menyambut SD BI. “SD Al Hikmah sangat layak dijadikan pelopor pelaksanaan SD BI di Indonesia melihat berbagai program dan fasilitas yang sangat memadahi”, ungkap Drs. Wasiman, kepala SDN Pondok Labu 11, Jakarta Selatan saat studi banding ke SD Al Hikmah.
Dengan adanya status dan amanah baru ini SD Al Hikmah langsung membuat langkah percepatan dengan membentuk tim SD BI dan menetapkan langkah-langkah konrit baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek, tim yang diketuai oleh Ust. Bambang ini menunjuk 2 kelas rintisan yang memenuhi standar SD BI, yaitu kelas 3 B dan 3 C, ke depan akan berlanjut ke kelas kelas lain sam pai semua kelas menjadi kelas berstandar SD BI. “SD BI tidak sama seperti SBI pada jenjang SMP dan SMA. Kalau SMP dan SMA ada kelas SBI dan ada kelas regular, tetapi untuk SD BI semua kelas adalah kelas SBI”, demikian ungkap Ustad Bambang. Lebih lanjut, waka kurikulum kelas bawah tersebut juga mengatakan bahwa setelah tiga tahun berjalan InsyaAllah semua kelas di SD Al Hikmah sudah memenuhi standar SD BI.
Dari segi pembelajaran tidak ada perbedaan berarti antara kelas 3B, 3C, dengan kelas lain. Hanya saja di kelas tersebut lebih sering memakai bahasa Inggris untuk instruksi-instruksi sederhana dan buku pegangan tambahan berbahasa Inggris untuk pelajaran matematika, IPA, dan computer. Dari segi perlengkapan di kelas ada standar tertentu yang harus dipenuhi oleh dua kelas tersebut, yakni adanya fasilitas laptop, LCD, screen, dan sound system. Dengan demikian diharapkan pembelajaran nantinya lebih atraktif dan menjadikan siswa menjadi lebih aktif. Selain itu dengan adanya SD BI ini ada sarana baru yang dimiliki SD Al Hikmah dan bias dimanfaat oleh semua kelas, yaitu Laboratorium Multimedia. Laboratorium yang terletak di lantai 2 Graha Baitul Ilmi ini dilengkapi dengan computer set sejumlah siswa satu kelas beserta webcam, headset, LCD TV, dan perangkat sound system. Lab multi media ini bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran bahasa Inggris, computer IPA, dan pelajaran lainnya. Selain itu lab Multimedia juga menyediakan CD pembelajaran dari berbagai bidang studi.
Status SD Al hikmah sebagai SD BI juga menjadi tantangan tersendiri bagi para Ustad, Ustazah dan pada staf lainnya. Semua guru dan staf secara intensif mengup grade diri dengan pelatihan dan kegiatan yang diprogramkan sekolah, antara lain kursus bahasa Inggris dan ICT.
Ke depan, standar pembelajaran dan fasilitas di SD BI Al Hikmah sepenuhnya mengarah pada standar SBI yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia untuk pelajran matematika, IPA, dan computer, serta pembelajaran berbasis ICT.
Terakhir kepala SD Al Hikmah berpesan bahwa kita tidak akan berhenti di sini, akan selalu ada pembaharuan dalam system dan pembelajaran yang tujuannya adalah bagaimana anak-anak kita menjadi generasi bangsa yang siap mengahdapi tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada Al Quran dan sunnah Rasul.(bee)

Rabu, 24 Desember 2008

Dengan Sampah Bisa Jadi Juara


Satu lagi prestasi bergengsi berhasil ditorehkan oleh Al Hikmah. Kali ini giliran guru yang berhasil membawa pulang piala lomba guru kreatif se-Jawa. Adalah Ustad Imam Syafii yang menjadi juara III dari lomba yang diadakan perusahaan minuman terkenal di Indonesia tersebut. Dengan mengambil judul “Media papan sampah sebagai sarana melatih tanggung jawab pada anak” Ustad Imam berhasil mngungguli peserta
lain dari berbagai sekolah di Pulau Jawa.

Pengumuman dan penyerahan
piala diselenggaran di Semarang pada tanggal 27 November 2008.
Sebanyak 746 peserta yang terdiri dari guru TK – SMA se-Jawa
mengikuti lomba yang diadakan oleh UNIKA Semarang dan Marimas ini.
Dari sekian banyak peserta dipilih 10 peserta dari masing-masing jenjang
sekolah untuk mengikuti fi nal di LPMP Semarang. Dari Al Hikmah ada du
guru yang terjaring masuk fi nal, Yaitu Ustad Imam Syafi i dan Ustadzah
Yuniati.
Pada babak final kesepuluh peserta mempresentasikan karya-karya berupa pembelajaran
kreatif di depan para juri. Melalui berbagai tahapan akhirnya
dipilih 5 peserta yang maju ke babak Grand Final. Suasana
menegangkan mewarnai tes public untuk memilih juara 1 – 3.
Tiap peserta memilih amplop dan menjawab pertanyaan di dalamnya dihadapan 10
orang juri dan semua audien. “Alhamdulillah saya menjawab
pertanyaan dengan baik meskipun agak nervous” Ungkap Ustad Imam saat
menceritakan pengalaman di depan semua Ustad-dan ustadzah. Selain uji
publik seleksi juara juga ditentukan dengan microteaching dari materi yang
dibuat sampai akhirnya dipilih tiga peserta terbaik untuk jadi juara.
Tidak dibutuhkan biaya besar dan alat yang rumit untuk memenangkan
lomba ini. Ustad Imam hanya memanfaatkan papan bekas dan
beberapa sampah sebagai peraga melatih tanggung jawab anak.
“Ternyata dengan sampah bisa mendapat hadiah” begitu kata Ustad
Imam sambil berseloroh. Dengan kemenangan ini ini Ustad Imam
berpesan bahwa kita semua bisa jadi juara asal kita mau berusaha. (bee)


Selasa, 02 Desember 2008

Dibutuhkan, Pembelajaran Bahasa yang Kreatif dan Rekreatif!

Mohammad Efendi
Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Banyak orang beranggapan, mengajar bahasa Indonesia itu mudah. Proses belajarnya lancar, semulus perjalanan di jalan tol. Apalagi kondisi sekarang ini begitu mendukung penggunaan bahasa Indonesia. Di rumah, di sekolah, di jalan, sudah lazim bahasa Indonesia digunakan. Begitu derasnya penggunaan bahasa nasional ini, hingga Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Pak Sahudi perlu memberikan edaran kepada sekolah tentang dua hari berbahasa Jawa di sekolah.

Sebuah upaya internal pendidikan agar bahasa daerah tak makin tergerus. Di lain pihak, dominannya bahasa Indonesia pada ranah-ranah berbahasa tadi, diakui memberi dampak positif bagi pembelajaran bahasa Indonesia: siswa terbiasa mempraktikkan bahasa Indonesia.
Selain hal tersebut, dapat diikutkan pula televisi sebagai alat penambah perbendaharaan kosakata siswa. Tak ada yang mengatakan bahwa siswa belajar bahasa Indonesia dari televisi, padahal sesunggguhnya, siswa dapat mendapat jimbunan kosakata dari kotak pandora ini. Saya teringat keponakan saya bertanya pada saya, “Om, terluka itu apa?” Bocah mungil yang duduk di TK nyeletuk bertanya saat tokoh cerita sinetron berujar, “Apakah mereka terluka?” Rupanya ia tak paham maksud kata berkata dasar “luka” ini.
Namun, keberpihakan suasana saat ini (untuk menggunakan bahasa Indonesia), boleh jadi tak berimbas sama sekali di bangku sekolah jika guru tak jeli dalam memola pembelajaran. Hal tersebut akan mubadzir, dan lenyap begitu saja jika guru masih tetap menomorsatukan membaca dan menulis sebagai isi pembelajaran bahasa. Padahal ada aspek lain yang juga perlu diasah lewat pembelajaran bahasa, yaitu keterampilan mendengar dan berbicara. Sebagai sebuah keterampilan dasar berbahasa, keempat keterampilan ini harus mendapatkan porsi asah (belajar) yang sama. Salah besar jika guru bahasa hanya mengajak anak didiknya membaca buku paket lalu mengerjakan soal saja. Apalagi sekarang tak terhitung banyaknya buku paket maupun buku soal latihan. Atau lebih fokus pada pengajaran mengarang dan tanda baca saja, karena itu yang keluar di ujian. Itu tidak patut dilakukan. Karena semangat pembelajaran bahasa adalah pengasahan empat keterampilan berbahasa secara berimbang: mendengar, berbicara, membaca, menulis.
Sebenarnya, empat keterampilan berbahasa tadi telah terwadahi dalam kurikulum. Namun, karena pola pembelajaran lebih tergantung pada “sang sopir”, maka semuanya tergantung pada kemauan guru dalam melaksanakan kurikulum. Jika sang guru mau melaksankannya, maka keterampilan siswa akan terasah secara berimbang, namun jika sebaliknya, keterampilan berbahasa akan menjadi “jomplang”.
Pada jenjang Sekolah Dasar, alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran bahasa Indonesia cukup ideal. Antara delapan sampai sepuluh jam pelajaran per minggunya. Ketersediaan waktu yang cukup luas ini sebenarnya merupakan tantangan bagi guru untuk memola pembelajaran yang kreatif dan rekreatif, dengan tetap berdasar pada kurikulum. Misalnya materi berwawancara dengan nara sumber. Mungkin cukup “memadahi” hanya dengan membaca buku paket, lalu menyimpulkan dan menjawab pertanyaan. Namun, jauh baik jika guru mengajak siswa untuk melajukan wawancara sederhana sungguhan. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu mereka diminta untuk menentukan orang yang akan mereka wawancarai. Sebelum terjun ke lapangan, mereka menyiapkan alat yang diperlukan (tape recorder, notebook, pulpen) serta menyusun daftar partanyaan wawancara. Baru kemudian tiap kelompok membuat laporan dan mmpresentasikannya di kelas. Saat presentasi, kelompok yang lain dapat mengajukan pertanyaan. Pengajaran wawancara ini juga dapat didesain dengan menghadirkan nara sumber di kelas. Hal tersebut akan memberikan suasana berbeda dalam pengajaran bahasa.
Pembelajaran drama juga dapat diskenario dengan menarik. Setelah diajak berdiskusi tentang penulisan drama, anak-anak diminta untuk menyusun naskah drama sendiri dan mementaskannya. Tentunya mereka lebih dulu dikelompokkan dalam kelompok drama. Agar anak-anak mengenal cerita rakyat, guru mengundi beberapa judul cerita rakyat. Dengan demikian, judul cerita rakyat yang dibawakan tiap kelompok berbeda, jadi lebih bervariasi. Kelompok satu memmbuat drama “Sangkuriang”, yang lainnya mungkin “Legenda Danau Toba” atau “Batu Belah”. Biasanya, kegiatan ini tak akan selesai dalam satu pertemuan. Mungkin empat sampai lima pertemuan. Karena rangkaiannya cukup panjang. Mulai dari pembuatan kelompok, penentuan judul, dan penyusunan naskah drama. Dilanjutkan dengan latihan pentas drama dan pentas sungguhan.
Dalam pelaksanaanya pendampingan guru dituntut optimal. Karena ini berkaitan dengan sebuah proses kreatif yang bersifat individual. Selain itu, guru juga dituntut untuk menerapkan standar evaluasi yang sesuai. Dalam pembelajaran drama dengan skenario seperti ini, nilai dapat diambil dari (1) naskah drama; keterampilan menulis dan (2) pentas drama; mendengar, berbicara, membaca. Dengan demikian, semua aspek keterampilan berbahasa tertampung dalam pembelajaran dan evaluasi. Dan yang pasti, pembelajaran menjdi menarik dan tak membosankan.
Dengan mendesain pengajaran yang kreatif dan rekreatif siswa tak akan jenuh. Lain halnya jika siswa hanya dikungkung di kelas saja. Materinya pun hanya melulu yang ada di buku paket. Anak akan cepat bosan saat belajar. Dan kunci utama untuk mengubah itu semua adalah “sang guru”. Beliaulah yang dapat mengubah suasana bosan menjadi menyenangkan. Keadaan biasa menjadi menggembirakan. Dan tak ada salahnya sesekali guru mengeluarkan ice breaker agar siswa menjadi fresh kembali. Ice breaker tersebut dapat berupa permainan huruf, kata, game sederhana, atau cerita. Permainan huruf misalnya, menyusun kata sebanyak-banyaknya dari beberapa huruf yang ditulis guru dlam waktu satu menit. Game ini dapat diulang dua sampai tiga kali. Berdasar pengalaman, permainan ini tak butuh waktu lebih dari 5 menit. Siswa akan tampak bergairah kembali seusai permainan ini dan siap melanjutkan pelajaran. Ibarat sebuah perjalanan, ice breaker menjadi tempat beristirahat bagi otak siswa. Untuk selanjutnya berjalan lagi dengan kondisi yang bugar kembali.
Saat ini telah banyak berkembang model skenario pembelajaran. Di antaranya adalah aplikasi teori quantum. Pentahapannya meliputi Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi, dan Rayakan. Pada Tumbuhkan: guru menumbuhkan minat siswa untuk mengikuti pembelajaran. Alami: siswa diberi kesempatan untuk mengalami hal yang akan dipelajari. Namai: siswa dengan dibimbing guru diajak untuk menemukan hasil pembelajaran. Demonstrasi: siswa diberi waktu untuk mendemonstrasikan hasil belajarnya. Ulangi: siswa dan guru mereview kembali proses dan hasil belajar yang telah mereka lakukan. Dan Rayakan: guru dan siswa merayakan keberhasilan mereka dalam mempelajari materi pelajaran. Rayakan daat berupa bernyanyi bersama, tepuk tangan, atau bentuk yang lainnya.
Sesungguhnya, skenario pembelajaran itu penting. Karena ia menjadi rel bagi kereta pembelajaran di kelas. Namun, yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan niat memola pembelajaran kreatif dan rekreatif dalam diri guru. Karena semangat itulah yang akan mewarnai proses belajar yang ia lakukan, dan yang akan diterima siswa. Sebaik apapun skenario, jika “sang masinis” tak lagi punya keinginan untuk berubah, maka kebaikan itu hanya akan ada di kertas belaka. Dan tak akan teraplikasikan dalam kenyataan. efendialhikmah@yahoo.co.id


tERJEMAHKAN

Kolom

Label:
Recent Posts
Widget by: Info Blog
 
Loading...

News - Berita

Berita dari ...